Logo Bapelkes
Rabu, 28 Oktober 2026

Diskusi: Topik : Cemaran Pangan Penyakit bawaan pangan untuk TPP siap saji yang sehat

DISKUSI SELESAI
15 Oktober 2026 - 14:41 WIB #1
Salam TSL dan Sehat selalu...!
Coba ceritakan atau sampaikan pendapat anda dalam kasus cemaran pangan, baik (Mikrobilogi,kimia, atau Fisik) atau kejadian alergen di wilayah kerja saudara. Apa cemaran atau agennya dan bagaimana bisa sampai ke pangan siap saji..??

Sebagai bahan belajar bisa ikuti materi terlampir dalam link berikut ...terima kasih...!!
Simpulan Akhir Diskusi
Terima kasih atas keaktifan sobat belajar semua...!! sesi Diskusi kita tutup...!!
Cemaran pangan merupakan setiap kontaminasi biologis, kimia, maupun fisik yang dapat menurunkan mutu dan keamanan pangan serta berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada konsumen. Oleh karena itu, pengendalian cemaran harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga penyajian pangan dengan menerapkan prinsip higiene dan sanitasi yang baik. Dengan pengawasan dan pengendalian yang konsisten, keamanan pangan dapat terjaga sehingga risiko penyakit bawaan pangan dapat diminimalkan dan kesehatan masyarakat lebih terlindungi.

Anda harus masuk ke akun Anda terlebih dahulu untuk ikut serta dalam diskusi ini.

Login Sekarang
15 Oktober 2026 - 07:48 WIB #2
Salam sehat kawan2 peserta semua.. sebagai awal dalam proses lanjutan belajar ini...anda bisa lihat video dan infografis dalam link berikut ini..!!
Semoga anda bisa memahami tentang beberapa sumber cemaran pangan, beberapa kasus di lapangan serta solusi nya..!!!

Ingat berikan komentar cerdas dan solutif yaa...!! tetap semngat...!!
15 Oktober 2026 - 13:03 WIB #3
Membalas @miftarohim
Terima kasih pak @miftarohim atas video dan infografis yang dibagikan. Menjadi pengingat materi yang telah disampaikan saat stage 1. Dapat jadi bahan edukasi juga ketika turun lapangan ke Tempat Pengolahan Pangan di Wilayah Kerja. Terima kasih
15 Oktober 2026 - 13:08 WIB #4
Membalas @miftarohim
@miftarohim
Menurut saya, pemahaman mengenai sumber cemaran pangan sangat penting karena cemaran mikrobiologi, kimia, maupun fisik dapat terjadi di tempat pengelolaan pangan dan berisiko terhadap kesehatan konsumen. Terima kasih atas sharing informasinya, Pak. Semoga materi ini menambah wawasan dan menjadi bekal bagi kita dalam meningkatkan pengawasan serta penerapan keamanan pangan di tempat kerja
15 Oktober 2026 - 13:09 WIB #5
Membalas @miftarohim
@miftarohim beberapa kasus pencemaran pangan pada TPP pelabuhan Tanjung Priok yaitu
1. Di wilayah kerja BBKK Tanjung Priok, salah satu risiko cemaran pangan yang perlu mendapat perhatian adalah makanan siap saji di sentra kantin pelabuhan yang dipajang atau disajikan terlalu lama pada suhu ruang tanpa pengendalian waktu dan suhu yang memadai. Sebagai contoh, sayuran bersantan, ayam goreng, tumisan, dan telur balado dimasak pada pagi hari, kemudian disajikan hingga siang hari, bahkan lebih dari empat jam, sementara pengelola tidak memiliki termometer pangan untuk memverifikasi suhu penyimpanan. cemaran utamanya adalah cemaran biologis/mikrobiologi, khususnya bakteri patogen atau bakteri pembentuk toksin yang dapat berkembang apabila kondisi pangan mendukung.
Solusinya menurut saya, upaya pencegahan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan pengawasan higiene sanitasi kantin, mengubah pola produksi yaitu masak mendekati waktu makan dan menyiapkan makanan dalam beberapa batch kecil serta menghindari memasak seluruh lauk pada pagi hari untuk dipajang sampai siang tanpa pengendalian, memastikan suhu makanan selama penyajian terkendali, melakukan pencatatan waktu dan suhu, serta memberikan edukasi kepada penjamah makanan. Dengan demikian, makanan yang disediakan bagi pekerja, awak kapal, dan pengguna jasa Pelabuhan Tanjung Priok tetap aman untuk dikonsumsi.
2. Makanan matang yang dibiarkan terbuka di area penyajian TPP berpotensi mengalami kontaminasi dari berbagai sumber, antara lain debu dan partikel dari lingkungan kantin maupun aktivitas di sekitar pelabuhan, vektor seperti lalat dan serangga, serta penjamah pangan yang tidak menerapkan higiene dengan baik. Selain itu, rambut, serpihan material, dan benda asing lainnya dapat masuk ke dalam makanan. Penyimpanan dalam kondisi terbuka yang disertai pengendalian waktu dan suhu yang tidak memadai juga dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan cemaran fisik dan biologis/mikrobiologi pada makanan matang. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan praktik penyimpanan dan penyajian pangan melalui penggunaan wadah tertutup atau pelindung pangan, penerapan higiene penjamah, pengendalian vektor, serta pengendalian waktu dan suhu penyimpanan sesuai ketentuan yang berlaku.
Solusinya menurut saya yaitu
a. menutup makanan dengan tutup yang bersih dan sesuai ukuran wadah. Buka hanya saat mengambil atau menyajikan makanan.
b. Memastikan etalase selalu tertutup atau pelindung yang sesuai, mudah dibersihkan, dan melindungi makanan dari debu serta serangga
c. menyajikan makanan sesuai kebutuhan dan isi ulang dengan batch yang dikelola secara benar. Tetap mengendalikan waktu dan suhu penyimpanan; karena penutup saja tidak menjamin keamanan pangan
3. Dalam pengawasan Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di sentra kantin Pelabuhan Tanjung Priok, ditemukan potensi risiko akibat penjamah pangan yang belum menggunakan perlengkapan APD sesuai kebutuhan, seperti penutup rambut, masker apabila diperlukan, celemek bersih, serta sarung tangan untuk kegiatan tertentu. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko rambut atau benda asing jatuh ke makanan, perpindahan mikroorganisme melalui tangan yang tidak bersih, serta kontaminasi pangan akibat percikan dari mulut atau hidung.
Permasalahan tersebut berpotensi menyebabkan cemaran fisik dan cemaran biologis/mikrobiologi pada makanan yang diolah atau disajikan, sehingga diperlukan peningkatan kepatuhan higiene penjamah pangan melalui pembinaan, penyediaan perlengkapan yang sesuai, dan pemantauan rutin oleh pengelola TPP.
Solusinya :
a. Menunjuk penanggung jawab TPP yang memeriksa kepatuhan penggunaan APD sebelum kegiatan pengolahan dimulai
b. Menetapkan aturan bahwa penjamah harus menggunakan perlengkapan yang sesuai sebelum mulai mengolah atau menyajikan makanan.
4. penggunaan es batu berbentuk balok untuk minuman berpotensi menimbulkan risiko cemaran apabila sumber air, proses pembuatan, pemotongan, penyimpanan, dan penanganannya tidak memenuhi prinsip higiene sanitasi. Es yang terkontaminasi dapat menjadi sumber cemaran biologis/mikrobiologi, sedangkan penanganan menggunakan alat yang kotor atau penyimpanan di lingkungan tidak higienis juga dapat menyebabkan cemaran fisik.
Solusinya :
Memberikan edukasi ke pengelola TPP untuk megutamakan es yang memenuhi persyaratan untuk pangan atau minuman. Untuk konsumsi langsung, mengunakan es yang diproduksi dan ditangani secara higienis serta memenuhi ketentuan yang berlaku.
15 Oktober 2026 - 13:18 WIB #6
Membalas @miftarohim
@miftarohim Terima kasih, Pak, atas ilmu telah dibagikan. Menurut saya, materi yang disampaikan sangat bermanfaat karena keamanan pangan merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan untuk mencegah risiko gangguan kesehatan akibat makanan yang terkontaminasi. Melalui pemahaman mengenai jenis dan sumber cemaran pangan, kita dapat lebih cermat dalam mengenali potensi bahaya serta menentukan upaya pencegahan yang sesuai. Semoga materi ini dapat menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kepedulian dan konsistensi dalam menjaga kualitas serta keamanan pangan, khususnya di lingkungan kerja.

Di wilayah kerja kami, khususnya pada tempat pengelolaan pangan seperti kantin, terdapat beberapa kondisi yang berpotensi menimbulkan cemaran pangan. Salah satunya adalah makanan siap saji yang dipajang terlalu lama pada suhu ruang. Kondisi ini dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme, seperti bakteri, terutama apabila makanan tidak disimpan pada suhu yang sesuai.

Selain itu, masih ditemukan penjamah pangan yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap, seperti penutup kepala, masker, atau celemek. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya cemaran fisik, misalnya rambut yang jatuh ke makanan, maupun cemaran mikrobiologi melalui tangan atau bagian tubuh penjamah yang tidak dijaga kebersihannya.

Permasalahan lainnya adalah tempat sampah di area pengelolaan pangan yang tidak dilengkapi dengan tutup. Kondisi tersebut dapat mengundang lalat yang berpotensi membawa mikroorganisme dari sampah ke makanan siap saji melalui kontak langsung, sehingga menyebabkan terjadinya cemaran mikrobiologi.
15 Oktober 2026 - 13:26 WIB #7
Membalas @miftarohim
Terimaksih Pak @miftarohim atas vidio dan info grafisnya, saya berguna bagi saya sebagai TSL
15 Oktober 2026 - 13:33 WIB #8
Membalas @miftarohim
@miftarohim
terimakasih atas video edukasi yang telah diberikan pak, dapat emnjadi recall bagi kami untuk materi stage 1 dan bekal distage selanjutnya
TPP pada wilayah kami sebagian besar adalah UMKM sehingga suplier bahan belum bisa dimonitoring secara maksimal, pernah pemeriksaan makanan jadi ditemukan positif boraks dan formalin
dikesempatan lain juga beberapa kali ditemukan cemaran fisik berupa rambut maupun kerikil
15 Oktober 2026 - 13:34 WIB #9
Membalas @miftarohim
Terima kasih untuk media edukasi yang sangat menarik serta mudah untuk dipahami. Terkadang penjamah sering mengabaikan personal hygine seperti habis pegang uang lanjut pegang makanan tanpa mencuci tangan. @miftarohim
15 Oktober 2026 - 13:35 WIB #10
Membalas @miftarohim
@miftarohim mtri yang bagus dan sangat menarik pak,,
ijin crita sedikit mengai pelabuhan patimban subang tempat saya tugas pak, Pelabuhan Patimban, dalam masa pengembangan saat ini aspek keamanan pangan perlu menjadi bagian penting dari pengawasan kesehatan lingkungan. Aktivitas konstruksi yang melibatkan pekerja, penyediaan makanan dalam jumlah besar, serta kegiatan kantin dan tempat pengolahan pangan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila higiene sanitasi tidak dikelola dengan baik. Risiko tersebut dapat berupa kontaminasi mikrobiologis akibat air yang tidak memenuhi persyaratan, kontaminasi silang selama pengolahan, penyimpanan makanan pada suhu yang tidak sesuai, maupun kontaminasi fisik dari debu dan material lingkungan konstruksi. oelh kerena itu materi ini sangat menarik bagi kami yang bertugas di pelabuhan patimban yng dalm masa pembagunan
15 Oktober 2026 - 13:35 WIB #11
Membalas @miftarohim
@miftarohim terimakasih atas informasinya Pak. Izin bertanya Pak, dan teman-teman semua. Untuk sayuran yang sudah terkontaminasi logam berat itu apakah bisa hilang sepenuhnya? Bagaimana cara untuk menghilangkannya?
15 Oktober 2026 - 13:42 WIB #12
Membalas @lisda.daryati2505
@lisda.daryati2505 kalau menurut saya sayuran yang sudah terkontaminasi logam berat pada ummumnya tidak dapat dibersihkan hingga bebas sepenuhnya dari logam berat hanya dengan mencuci atau memasaknya. karena Cemaran menempel pada permukaan, logam berat diserap oleh tanaman, dan pada saat proses pemasakan tidak menghancurkan logam berat
15 Oktober 2026 - 13:44 WIB #13
Membalas @lisda.daryati2505
@lisda.daryati2505
menurut saya untuk sayuran yang telah terkontaminasi logam berat belum bisa dipastikan hilang sepenuhnya setelah adanya proses pencucian dan pemasakan teh. pencucian dan pemasakan biasanya hanya mengurangi kandungan logam beratnya.
karena kalau dihilangkan sepenuhnya tidak bisa, maka lebih baik mencegah kontaminasi dari hulu nya (memastikan lahan pertanian dan air untuk irigasi tidak tercemar)
15 Oktober 2026 - 13:37 WIB #14
Membalas @miftarohim
@miftarohim
Terima kasih Pak atas materi yang telah disampaikan. Materi ini sangat bermanfaat dan relevan dengan pelaksanaan tugas kami di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Medan, khususnya dalam pengawasan kesehatan lingkungan pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di wilayah kerja pelabuhan dan bandara.

Izin menyampaikan tanggapan, cemaran pangan pada TPP menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian karena dapat berisiko menimbulkan penyakit bawaan pangan. Oleh karena itu, inspeksi kesehatan lingkungan perlu dilakukan secara berkala dengan memperhatikan higiene penjamah makanan, kualitas air, sanitasi peralatan, serta proses pengolahan dan penyimpanan makanan. Melalui pengawasan dan pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan risiko cemaran pangan dapat dikendalikan sehingga keamanan pangan bagi masyarakat dan pengguna jasa di pintu masuk negara tetap terjaga.
15 Oktober 2026 - 13:39 WIB #15
Membalas @miftarohim
Salam Sehat Bapak/Ibu semua,
Terima kasih pak atas sharing ilmunya,semoga bisa menambah wawasan dan menjadi bekal kami dalam menerapkan hygiene sanitasi pangan di tempat kerja kami.@miftarohim
15 Oktober 2026 - 13:40 WIB #16
Membalas @miftarohim
izin pak @miftarohim . Di area tenant bandara SMB II (wilayah kerja BKK Kelas I Palembang) cemaran pangan yang rentan terjadi adalah cemaran pangan secara fisik dimana para penjamah pangan sering lupa menggunakan APD berupa penutup kepala dan masker selama menyiapkan makanan sehingga ada rambut yang masuk ke dalam makanan yang disajikan dan dikhawatirkan adanya kontaminasi percikan dari mulut dan hidung para penjamah pangan. Solusinya : Memberikan pengarahan ulang mengenai higiene perorangan dan pencegahan cemaran fisik, melakukan pengawasan secara rutin oleh pihak BKK dan penanggungjawab TPP agar tidak terjadinya cemaran pangan baik fisik, kimia, maupun mikrobiologi.
15 Oktober 2026 - 14:02 WIB #17
Membalas @miftarohim
@miftarohim sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas materinya, bagi saya potensi cemaran pangan masih menjadi salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian bukan hanya dari pemilik/pengelola TPP yang bertanggung jawab atas keamanan pangan yang diproduksi, diolah, disimpan, dan disajikan dan BKK sebagai petugas yang melaksanakan pengawasan kesehatan lingkungan dan higiene sanitasi pangan sesuai kewenangannya, mengidentifikasi risiko, memberikan rekomendasi, serta memantau tindak lanjut temuan bersama pengelola kawasan dan pengelola TPP, selain itu juga diperlukan perhatian dan upaya perbaikan dari pemilik/pengelola lahan dan bangunan yang dijadikan tempat berusaha setiap TPP yang ada di wilayah pelabuhan ataupun bandara, seperti PT. Pelindo, PT. Angkasa Pura dan PT. ASDP karena secara tidak langsung mereka yang memiliki aturan/kebijakan terhadap setiap tenan yang akan berusaha di wilayah pelabuhan/bandara.
PT Pelindo, Angkasa Pura, dan ASDP selaku pemilik atau pengelola lahan dan bangunan tempat tenan berusaha memiliki peran penting dalam mendukung keamanan pangan, mencegah pencemaran pangan, serta menciptakan lingkungan pelabuhan dan bandara yang sehat.
Dalam konteks pengawasan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Pangkalpinang, peran ketiga pihak tersebut tidak hanya menyediakan tempat usaha, tetapi juga memastikan bahwa sarana, prasarana, lingkungan, dan tata kelola kawasan mendukung praktik higiene sanitasi pangan yang baik. Sehingga dalam hal ini, Pelindo, AP dan ASDP yang merupakan pemilik/Pengelola Kawasan di Pelabuhan/Bandara bertanggung jawab atas fasilitas dan lingkungan yang berada dalam kewenangannya, pengelolaan sampah kawasan, pemeliharaan sarana umum, pengendalian sumber cemaran bersama, serta pengawasan kepatuhan tenant berdasarkan ketentuan pengelolaan kawasan. Terima Kasih
15 Oktober 2026 - 14:07 WIB #18
Membalas @miftarohim
@miftarohim Terima kasih pak mifta untuk sharing videonya dan terkait cemaran pada pangan, sangat bermanfaat dan bisa kami jadikan bahan untuk penyampaian informasi kepada penanggung jawab dan penjamah tenan-tenan makanan yang ada di wilayah kerja saya khususnya.
15 Oktober 2026 - 14:28 WIB #19
Membalas @miftarohim
Terima kasih Pak @miftarohim atas materinya. Cemaran pangan ini dapat sering terjadi pada pangan siap saji terutama pedagang kaki lima. Para penjamah harus diedukasi terkait bahaya dan cara pencegahannya
15 Oktober 2026 - 13:06 WIB #20
Di wilayah kerja saya, BBKK Tanjung Priok, salah satu potensi risiko keamanan pangan yang menjadi perhatian adalah penggunaan es balok untuk pengawetan ikan di lingkungan pelabuhan. Es balok biasanya digunakan untuk mempertahankan kesegaran ikan selama penyimpanan dan distribusi. Es tersebut dibuat menggunakan air yang tidak memenuhi persyaratan kualitas air minum, sehingga berpotensi mengandung cemaran mikrobiologi, seperti Escherichia coli. Cemaran juga dapat terjadi selama pengangkutan, penyimpanan, dan penanganan es apabila tidak dilakukan secara higienis.
Upaya yang telah dilakukan adalah mengedukasi pengelola Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) agar menggunakan es kristal yang diperuntukkan bagi pangan dan memenuhi persyaratan keamanan pangan, serta tidak menggunakan es balok yang tidak terjamin kualitasnya. Selain itu, kami juga memberikan informasi kepada otoritas pelabuhan agar dilakukan pengendalian terhadap penjualan dan penggunaan es balok yang tidak memenuhi persyaratan untuk penanganan pangan.
Kendala yang dihadapi adalah es balok masih dijual di wilayah pelabuhan sehingga masih ada pengelola TPP yang menggunakannya, meskipun edukasi telah dilakukan.
15 Oktober 2026 - 13:07 WIB #21
salam sehat pa miftah dkk, ijin ... terkait cemaran pangan, tentang bahaya nitrit pda pangan yang menyebabkan begitu banyak kejadian keracunan di sekolah pada program nasional, itu kenapa pa mif? dkk? bagaimana penyebabnya, penyebarannya dan yang paling penting bagaimana pencegahannya?
15 Oktober 2026 - 13:14 WIB #22
Membalas @agungharri83
@agungharri83
keracunan nitrit yang berasal dari menu tumis pakcoy bukan ya pak? pencegahannya menurut saya lebih ke pengawasan pada pemilihan bahan baku, melakukan pencucian sayur dengan menggunakan air mengalir, atau melakukan perebusan sehingga mengurangi kadar nitrit.
15 Oktober 2026 - 13:16 WIB #23
Membalas @nurashri07
@nurashri07 kemungkinan dari cemaran pupuk untuk sayuran kali ya?
15 Oktober 2026 - 13:23 WIB #24
Membalas @agungharri83
@agungharri83
setau saya ada 3 sumber adanya nitrit pada sayuran pak
1. nitrat dari tanah/air/pupuk, jadi tanaman menyerap nitrat untuk pertumbuhannya
2. nitrat pada sayuran yang dipotong bertemu dengan enzim alami tanaman sehingga berubah menjadi nitrit
3. kalau sayuran matang di biarkan terlalu lama pada suhu ruang, bakteri dapat merubah nitrat menjadi nitrit
Sehingga memang dibutuhkan pengawasan keamanan pangan mulai dari tahap pemilihan bahan baku hingga pendistribusian makanan pak
15 Oktober 2026 - 13:20 WIB #25
Membalas @agungharri83
@agungharri83 saya jg ada pengalaman seperti ini Pak, saat ada kejadian keracunan MBG di suatu sekolah di KBB kami diminta utk melakukan koordinasi dgn Dinkes setempat, hasil laboratorium menunjukkan bahwa terdapat kandungan nitrit yang tinggi pada melon yang disinyalir menjadi penyebab keracunan tsb. Berdasarkan hasil analisis, kadar nitrit bisa meningkat karena hasil kerja bakteri, yang bisa mengubah nitrat alami yg ada pada buah menjadi nitrit. Apakah betul demikian?
15 Oktober 2026 - 13:37 WIB #26
Membalas @lisda.daryati2505
@lisda.daryati2505
ada beberapa artikel ilmiah yang menyebutkan bahwa kadar nitrit meningkat akibat bakteri teh, tetapi tetap perlu ditelusuri kualitas dari bahan baku, kondisi penyimpanan melon setelah dipotong, kebersihan air dan peralatan dan pemeriksaan mikrobiologinya
15 Oktober 2026 - 13:39 WIB #27
Membalas @agungharri83
@agungharri83 menurut saya untuk pencegahan cemaran nitrit dapat dengan mencegah bahaya sejak bahan baku diterima dengan mengendalikan pemasok dan bahan baku
- Gunakan pemasok yang dapat ditelusuri asal produknya.
- Minta informasi tentang penggunaan pupuk.
- Lakukan penilaian risiko pada sayuran berdaun hijau
apabila ditemukan dugaan cemaran kimia, tahan bahan atau produk terkait sampai ada penilaian lebih lanjut.
2. memperbaiki penanganan sayuran dengan mencuci dengan air yang memenuhi syarat, peralatan dan wadah yang bersih, menghindari penyimpanan matang terlalu lama
15 Oktober 2026 - 13:21 WIB #28
Pengalaman kami di BKK Kelas I Cilacap pernah hasil laboratorium pemeriksaan sampel makanan yang berasal dari TPP di wilayah kerja kami positif mengandung bakteri e.coli. Hal tersebut kemungkinan karena penggunaan air bersih yang terkontaminasi atau kebersihan tangan penjamah makanan.
15 Oktober 2026 - 13:26 WIB #29
Terima kasih pak Mifta untuk materi tentang Cemaran Pangan Penyakit bawaan pangan untuk TPP siap saji yang sehat. Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) Di wilayah kerja BBKK Tanjung Priok, salah satu risiko cemaran pangan yang perlu mendapat perhatian adalah makanan siap saji di sentra kantin pelabuhan yang dipajang atau disajikan terlalu lama pada suhu ruang tanpa pengendalian waktu dan suhu yang memadai. Sebagai contoh, sayuran bersantan, ayam goreng, tumisan, dan telur balado dimasak pada pagi hari, kemudian disajikan hingga siang hari, bahkan lebih dari empat jam, sementara pengelola tidak memiliki termometer pangan untuk memverifikasi suhu penyimpanan.
Makanan siap saji dapat mengalami cemaran pangan ketika proses pengolahan, penyimpanan, pemajangan, dan penyajiannya tidak dikendalikan dengan baik. Pada sentra kantin Pelabuhan Tanjung Priok, makanan seperti sayuran bersantan, ayam goreng, tumisan, dan telur balado yang dimasak pagi hari kemudian dibiarkan pada suhu ruang hingga siang hari berisiko mengalami pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan.
Menurtu saya cemaran bisa sampai ke pangan siap saji karena :
a. Bahan pangan mentah dapat membawa mikroorganisme seperti ayam mentah dapat membawa bakteri Salmonella dan sayuran dapat tercemar dari tanah, air, atau proses penanganan
b. cemaran dapat berpindah melalui tangan penjamah, pisau, talenan, peralatan yang tidak bersih, air yang tidak memenuhi syarat, atau kontak antara bahan mentah dan makanan matang. Pemasakan yang tidak memadai juga dapat menyebabkan mikroorganisme bertahan hidup.
c. Makanan matang yang dibiarkan pada suhu ruang selama berjam-jam dapat menjadi tempat berkembang biak mikroorganisme, terutama jika suhu berada pada rentang yang mendukung pertumbuhannya.
d. makanan dapat terkontaminasi kembali melalui sendok saji, tangan, debu, serangga, wadah terbuka, atau konsumen yang menyentuh makanan. Risiko bertambah jika makanan yang sudah dipajang dicampur dengan makanan baru.
dari kasus cemaran tersebut cemaran utamanya adalah cemaran biologis/mikrobiologi, khususnya bakteri patogen atau bakteri pembentuk toksin yang dapat berkembang apabila kondisi pangan mendukung
15 Oktober 2026 - 13:31 WIB #30
Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel makanan (sayur tahu lenca) yang kita ambil dari warung yang berada di wilayah kerja Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap dapat diketahui hasilnya positif e coli. Pemeriksaan dilaksanakan di Labkesda Kabupaten Banyumas. Menurut saya ada beberapa faktor penyebab, seperti memasak sayur lenca dimasak setengah matang. Etalase penyimpanan makanan matang tidak tertutup rapat sehingga di hinggapi oleh lalat
15 Oktober 2026 - 13:34 WIB #31
terimkasih pak materinya sungguh menarik,untuk kasus cemaran pangan di wilayah kerja kami belum ada kasusnya,tp sangat besyukur dengan adanya materi ini bisa menjadi panduan kami kedepanya pak bila terjadi kasus cemaran pangan
15 Oktober 2026 - 13:35 WIB #32
Salam Sehat Bapak/Ibu semua,
Terima kasih pak @miftarohim atas sharing ilmunya,semoga bisa menambah wawasan dan menjadi bekal kami dalam menerapkan hygiene sanitasi pangan di tempat kerja kami.
Sedikit cerita terkait cemaran pangan wilayah kerja kami di Pelabuhan Baron (Gunungkidul, Yogya), faktor risiko yang paling tinggi adalah dari kontaminasi silang pada produk olahan ikan di warung makan/tempat pengolahan pangan Pelabuhan Baron akibat buruknya fasilitas sanitasi dasar dan minimnya penerapan hygiene perorangan oleh penjamah makanan.
15 Oktober 2026 - 13:37 WIB #33
Permasalahan yang terjadi pada beberapa TPP di BKK Semarang yang sering ditemukan seperti penjamah tidak memakai masker dan hairnet sehingga kemungkinan dapat terjadinya potensi cemaran pangan fisik seperti rambut yang masuk ke dalam pangan atau dapat juga cemaran mikrobiologi melalui percikan air liur dan hidung penjamah karena tidak memakai masker sehingga dapat berpotensi tercemarnya bakteri patogen. Selain itu saat pra posko lebaran pernah ditemukan hasil lab positif E.coli pada salah satu TPP. Kemungkinan terjadinya cemaran mikrobiologi tersebut bisa dari berbagai cara, seperti saat pengolahan penjamah tidak mencuci tangan dan tidak menerapkan personal hygiene, adanya kontaminasi silang saat pengolahan penggunaan peralatan bahan mentah dan matang secara bersamaan.
15 Oktober 2026 - 13:42 WIB #34
cemaran pangan secara mikrobiologi, fisiik yang sering terlihat pada saat pengolahan makanan, dan penyajian makanan berasal dari penjamah makanan yang tidak menjaga personal hygiene seperti masih banyak penjamah makanan yang sambil menyajikan makanan masih ada yang merokok, tidak menggunakan sendok atau penjepit saat memgambil makanan, memakai perhiasan, tidak memakai penutup kepala saat menyajikan makanan. Karena ada beberapa TPP /Kantin/Rumah makan dipelabuhan kurang menjaga kebersihan makanan seperti setelah melakukan pengembalian uang tidak mencuci tangan dulu atau lalu memegang makanan lebih baik memakai sarung tangan plastik pada saat melakukan memegang uang apabila setelahnya masih melakukan penyajian atau pengolahan makanan. yang saya liat di lapangan masih banyak penjamah makanan yang kurang memperhatikan personal hygienenya apalagi bila pengunjung ramai dan sangat susah mengubah perilaku tersebut .
15 Oktober 2026 - 13:45 WIB #35
terimakasih bapak atas video yang telah diberikan,
Perkenalkan saya Balqis Krisvinda dari BKK Probolinggo yang bertugas di wilayah kerja Pelabuhan terminal khusus Paiton,

terkait tanggapan video tersebut berhubungan dengan pengawasan TPP yang telah kami lakukan di area pelabuhan, berhubung saya di wilker dengan pelabuhan terminal khusus sehingga untuk pengawasan TPP cenderung pada warung UMKM disekitar pelabuhan buffer dengan kondisi memang banyak indikator yang tidak sesuai dengan list pada form IKL, tetapi memang untuk solusi dan rekomendasi yang diberikan kepada pihak umkm merupakan solusi yang dapat dilakukan dengan mudah dan mencari alternatif lain yang sekiranya tidak memberatkan secara biaya karena meman keluhannya rata-rata terkait biaya jika disarankan untuk lebih tertib lagi, sehingga kami memberikan solusi minimal yang setidaknya dapat mereka lakukan seperti, jika memang kondisinya warung terbuka dan tidak memiliki pintu dan terdapat kemungkinan besar vektor atau binatang peliharaan dapat akses masuk ke warung dengan mudah, sehingga kami menyarankan untuk lebih teliti dan sering memperhatikan kondisi warung sehingga hal yang tidak seharusnya berada di sekitar warung dapat terhindar.
15 Oktober 2026 - 13:46 WIB #36
setelah teman-teman memahami materi cemaran pangan di dalam pelatihan dan memlihat beberapa masalah yang sudah disampaikan, kira-kira solusi apa yang bisa diambil dari materi tersebut untuk menyelesaikan masalah cemaran pangan di lapangan?
15 Oktober 2026 - 13:51 WIB #37
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
solusi yang dapat diambil dari materi pada video tersebut untuk mengatasi masalah cemaran pangan di lapangan dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan.
15 Oktober 2026 - 13:57 WIB #38
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
mungkin solusi yang tepat tetap mempraktekan prinsip higiene sanitasi pada penjamah juga pada perlakuan terhadap bahan matang atau mentah, tetapi itu semua ujungnya tetap pada edukasi yang rutin untuk dilakukan sehingga pelaku usaha terkait mengingat diluar kepala dan menjadi suatu kebiasaan yang baik
15 Oktober 2026 - 14:08 WIB #39
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Solusi untuk mengatasi masalah cemaran pangan di lapangan adalah menerapkan pengawasan keamanan pangan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, penerimaan dan penyimpanan, proses pengolahan, hingga penyajian atau pendistribusian makanan.

1. Untuk cemaran mikrobiologi, perlu diterapkan higiene sanitasi, pemisahan bahan pangan mentah dan matang, serta pengendalian waktu dan suhu.
2. Untuk cemaran kimia, perlu dipastikan bahwa air dan bahan baku memenuhi persyaratan, penggunaan bahan tambahan pangan sesuai ketentuan, serta dilakukan pemeriksaan laboratorium apabila terdapat indikasi cemaran.
3. Cemaran fisik dapat dicegah dengan menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan peralatan yang layak, dan melakukan pemeriksaan bahan pangan sebelum diolah.

Berdasarkan pengalaman di wilayah kerja BBKK Tanjung Priok, edukasi kepada pengelola TPP juga perlu dilakukan, tetapi disertai pengawasan berkala, rekomendasi perbaikan, serta koordinasi dengan otoritas pelabuhan dan instansi terkait. Dengan demikian, pengawasan tidak hanya menemukan masalah, tetapi juga memastikan adanya tindak lanjut dan perubahan perilaku.

Menurut saya, kunci keberhasilannya adalah pencegahan sejak sumber cemaran, penerapan prosedur, dan komitmen seluruh pihak untuk menjamin pangan yang aman
15 Oktober 2026 - 14:08 WIB #40
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 menurut saya solusi bila terjadi kasus keracunan pangan di lapangan
1. Amankan sisa pangan yang di curigai sebagai penyebab keracunan pangan
2. Stop distribusi atau penyajian
3. wawancara epidemiologi
4. inspeksi sanitasi mendadak
15 Oktober 2026 - 14:10 WIB #41
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 solusi yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah tentang cemaran pangan yaitu kita dapat melakukan 6 prinsip keamanan pangan yaitu mulai dari pemilihan bahan pangan, penyimpanan bahan pangan, pengolahan pangan, penyimpanan makanan matang, pengangkutan dan penyajian.
15 Oktober 2026 - 14:13 WIB #42
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 menurut saya solusi yang dapat diterapkan pada kasus cemaran pangan dilapangan yaitu melakukan pengawasan sesuai dengan prinsip keamanan pangan terhadap TPP yang berada di wilayah kerja secara rutin. Tidak hanya pada bahan baku dan proses pengolahan pangannya saja, tetapi kita juga harus memperhatikan tempat pengolahannya apakah bangunan dapurnya sudah memenuhi syarat, lalu bagaimana kualitas air yang digunakan baik untuk mencuci maupun memasak, bagaimana cara pengendalian vektor nya serta kualitas alat masak/alat makan yang digunakan apakah sudah sesuai atau tidak
15 Oktober 2026 - 13:47 WIB #43
DI Pelabuhan wilayah BBKK medan setiap kami melakukan pemeriksaan kebersihan usap alat makan rata2 hasilnya kurang bersih karena mereka setelah mncuci alat makan tidak ditiriskan tetapi dilap pakai kain lap yang berulang yang belum tentu bersih karena sudah dipakai berulang. dari alat makan tersebut juga bisa terjadi cemaran biologis karena pencucian yang kurang bersih dan juga penggunaan dari kain lap
15 Oktober 2026 - 13:47 WIB #44
Selamat Siang, terima kasih Pak Mifta atas materi yang telah disampaikan.

Saya Jasmine Aisha A, sanitarian dari BBKK Surabaya. Izin sharing, di wilayah kerja kami, yaitu pengawasan Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di Bandara Juanda, terdapat beberapa risiko keamanan pangan yang kami temui di lapangan.

Pertama, risiko kontaminasi silang akibat penataan bahan pangan yang belum sesuai.
Pada salah satu jasaboga penyedia makanan pesawat untuk periode Haji, kami pernah menemukan bahan pangan hewani mentah, seperti gajih, disimpan dalam ruang chiller yang sama dengan sayuran tanpa pemisahan yang memadai. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kontaminasi silang, terutama apabila cairan dari bahan mentah mengenai sayuran yang akan dikonsumsi tanpa pemasakan lebih lanjut. Penanganannya adalah memberikan edukasi langsung kepada penjamah pangan, memperbaiki penataan bahan berdasarkan jenis dan tingkat risikonya, menggunakan wadah tertutup, serta memastikan suhu penyimpanan sesuai dengan persyaratan.

Kedua, risiko kontaminasi biologis akibat produk pangan yang sudah rusak.
Pada periode pelayanan Matra Haji, kami beberapa kali menemukan brownies berjamur di salah satu lounge yang digunakan jemaah untuk beristirahat sebelum keberangkatan. Brownies tersebut dibeli dari toko roti, bukan diproduksi sendiri oleh pihak lounge. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko keamanan pangan tidak hanya berasal dari proses pengolahan, tetapi juga dapat terjadi pada tahap penerimaan, distribusi, dan penyimpanan. Penanganannya adalah menghentikan penyajian produk yang berjamur, melakukan penelusuran terhadap pemasok dan kondisi produk saat diterima, serta mengevaluasi masa simpan dan cara penyimpanannya agar kejadian serupa tidak berulang.

Ketiga, risiko kontaminasi fisik akibat penjamah pangan tidak menggunakan perlengkapan kerja yang sesuai.
Penjamah pangan yang tidak menggunakan penutup kepala atau perlengkapan kerja yang sesuai dapat meningkatkan risiko masuknya rambut maupun benda asing ke dalam makanan. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi mengenai higiene personal, memastikan penggunaan perlengkapan kerja sesuai jenis aktivitas, serta melakukan pengawasan rutin selama proses pengolahan dan penyajian makanan.

Keempat, risiko kontaminasi akibat keterbatasan ruang dan fasilitas penyimpanan di tenant bandara.
Kondisi ruang tenant yang relatif sempit menyebabkan beberapa tenant belum memiliki loker atau tempat penyimpanan khusus bagi barang pribadi maupun perlengkapan kerja. Akibatnya, masih ditemukan barang yang diletakkan di lantai, di sudut ruangan, bahkan di atas meja saji. Ada pula tenant yang sudah menggunakan keranjang untuk mengumpulkan barang-barang tersebut, tetapi penempatannya tetap perlu diperhatikan agar tidak mengganggu higiene dan sanitasi.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan kontaminasi silang, mengganggu kebersihan area pengolahan, menjadi tempat penumpukan debu atau kotoran, serta menghambat proses pembersihan. Apabila barang diletakkan di atas meja saji, terdapat risiko kontaminasi terhadap permukaan yang digunakan untuk menyiapkan atau menyajikan makanan.
Penanganannya dapat berupa edukasi dan penataan ulang area kerja, menyediakan tempat penyimpanan khusus yang tertutup atau rak yang sesuai, serta memastikan barang pribadi tidak diletakkan di area pengolahan maupun penyajian makanan. Jika keterbatasan ruang menjadi kendala, pengelola dapat mengupayakan tempat penyimpanan yang ringkas dan tidak mengganggu alur kerja, dengan tetap menjaga barang agar terlindung dari kontaminasi.

Selain itu, kami juga pernah menemukan stok air minum dalam kemasan botol plastik yang diletakkan langsung di lantai. Hal ini berpotensi menyebabkan bagian luar kemasan terpapar kotoran, percikan air, atau kontaminan dari lantai. Meskipun air masih berada dalam kemasan tertutup, kondisi tersebut tetap menunjukkan bahwa penyimpanan belum memenuhi praktik higiene yang baik. Penanganannya adalah memindahkan stok ke rak atau alas penyimpanan yang bersih, menjaga jarak dari lantai dan sumber kontaminasi, serta menerapkan prinsip penyimpanan yang rapi dan tidak mengganggu pembersihan area.

Sebagai upaya perbaikan, pengawasan tidak hanya berhenti pada identifikasi temuan. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah membuat rapor hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang diberikan kepada tenant. Rapor ini diharapkan dapat membantu pengelola mengetahui kondisi higiene sanitasi usahanya, memahami aspek yang sudah memenuhi maupun belum memenuhi persyaratan, dan menentukan prioritas perbaikan. Hasil IKL juga dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut dan melakukan pemantauan terhadap perbaikan yang telah dilakukan.

Dari berbagai temuan tersebut, kami melihat bahwa pengendalian risiko keamanan pangan di bandara memiliki tantangan tersendiri karena keterbatasan ruang, tingginya aktivitas pelayanan, serta adanya produk pangan yang berasal dari pemasok eksternal. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang berkelanjutan, edukasi kepada pengelola dan penjamah pangan, perbaikan sarana sesuai kondisi lapangan, serta tindak lanjut hasil IKL agar risiko kontaminasi dapat dikendalikan dan kejadian serupa tidak berulang.

Terima kasih.
15 Oktober 2026 - 13:48 WIB #45
Berdasarkan kondisi di Bandara Juanda, potensi cemaran pangan pada pangan siap saji dapat terjadi melalui beberapa jalur, terutama pada tenant penyedia makanan dan minuman.

1. Cemaran fisik
a. Cemaran fisik yang berpotensi terjadi berupa debu, serangga, rambut, serpihan plastik, atau benda asing lainnya yang berasal dari lingkungan bandara maupun aktivitas penjamah pangan. Risiko ini meningkat pada tenant yang berlokasi dekat dengan akses kendaraan karena gerakan kendaraan dapat menimbulkan debu dan partikel dari lingkungan sekitar.
b.Selain itu, terdapat ketidakkonsistenan dalam menutup showcase pada beberapa tenant. Apabila showcase tidak ditutup secara konsisten, pangan siap saji menjadi lebih terbuka terhadap paparan debu, serangga, dan benda asing dari lingkungan.

2. Cemaran biologis
a.Risiko cemaran biologis utama berasal dari lalat sebagai vektor penyakit. Lalat dapat berpindah dari tempat pembuangan sampah, saluran drainase, area basah, dan limbah organik menuju pangan yang terbuka. Mikroorganisme patogen dapat terbawa melalui tubuh, kaki, liur, maupun kotoran lalat.
b. Apabila showcase tidak ditutup secara konsisten, lalat memiliki peluang lebih besar untuk hinggap pada pangan siap saji. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kontaminasi bakteri seperti Salmonella sp., Escherichia coli, atau Staphylococcus aureus, yang berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan dan keracunan makanan. Serangga, termasuk lalat, merupakan salah satu sumber kontaminasi biologis pada pangan.

3. Cemaran kimia
a. Cemaran kimia berpotensi terjadi akibat grease trap yang rusak. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penumpukan minyak, lemak, sisa makanan, dan air limbah pada area sekitar tenant. Apabila grease trap meluap atau tidak berfungsi dengan baik, zat kimia dari sisa minyak, deterjen, maupun limbah dapur dapat mencemari lingkungan pengolahan dan penyajian pangan.
b. Selain menimbulkan bau dan menjadi media pertumbuhan mikroorganisme, kondisi grease trap yang rusak juga dapat meningkatkan risiko kontaminasi silang terhadap peralatan dan permukaan yang bersentuhan dengan pangan. Cemaran kimia pada pangan dapat berasal dari bahan kimia yang tidak dikehendaki, termasuk residu bahan pembersih dan senyawa dari proses pengolahan pangan.

4. Pengaruh penggunaan APD
a. Penggunaan APD, khususnya masker, yang tidak konsisten juga dapat meningkatkan risiko cemaran biologis. Masker berfungsi mencegah percikan liur dan droplet dari saluran pernapasan penjamah pangan masuk ke dalam pangan, terutama saat berbicara, batuk, atau bersin.
b. Apabila masker tidak digunakan secara konsisten karena pertimbangan penampilan, risiko kontaminasi mikroorganisme dari penjamah pangan ke pangan siap saji menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, penggunaan APD perlu ditegakkan sebagai bagian dari praktik higiene dan sanitasi penjamah pangan. Penerapan higiene dan sanitasi pada industri pangan siap saji bertujuan mencegah pangan tercemar oleh cemaran biologis, kimia, maupun benda lain yang membahayakan kesehatan.

upaya pengendalian dan pencegahan:
1. memberikan stiker TPP sehat dan rapor TPP untuk setiap tenant yang sudah dilakukan inspeksi. Upaya tersebut berungsi untuk meningkatkan daya jual tenant dan juga sebagai salah satu upaya yang kami lalukan untuk melakukan monitoring terkait upaya perbaikan dari setiap saran yang diberikan oleh petugas inspeksi.
2. Memberikan teguran lisan saat kegiatan inspeksi berlangsung untuk setiap ketidaksesuaian pengelolaan pangan yang sifatnya dapat dilaksanakan perbaikan segera, dan memberikan teguran tertulis yang ditujukan kepada pengelola untuk perbaikan yang sifatnya membutuhkan pendaan atau penangan lebih lanjut.
3. Jika ditemukan hasil sampel makanan atau air yang positif e.coli, kami melakukan pendampingan untuk melakukan upaya perbaikan pada hasil inspeksi yang berpotensi menjadi sumber cemaran e.coli pada pangan. Setelah itu satu minggu kemudian kami melakukan sampling ulang sebagai salah satu bentuk evaluasi.
15 Oktober 2026 - 14:01 WIB #46
Terimakasih Pak. Salah satu kegiatan pengawasan kemanan pangan di BKK Bandung sendiri, kami melakukan pengawasan pada catering Asrama Haji baik yang di Bekasi maupun yang di Indramayu. Di kedua Asrama Haji tersebut memiliki permasalahan yang berbeda. Pada operasional embarkasi haji Bekasi tahun 2026, sempat ditemukan beberapa makanan yang telah basi yang disajikan kepada calon jemaah haji. Salah satunya adalah nasi yang telah bau pada nasi box, tempe goreng serta ayam yang berbau tidak sedap serta puding yang sudah berlendir. Di dapur Asrama Haji sendiri melakukan pengolahan pangan (nasi dan lauk pauk) sedangkan untuk snack diambil dari tempat lain sehingga sulit untuk melakukan pengawasan secara langsung. Adapun pangan yang diketahui sudah rusak tersebut ditemukan pada saat pemeriksaan sampel secara organoleptik oleh petugas BKK Bandung dan segera dilakukan penarikan terhadap menu tersebut dan diganti dengan yang baru. Beberapa analisis pada temuan tersebut adalah :
1. Adanya bahan baku (tempe dan ayam) yang sudah tidak segar dan tidak disimpan pada chiller dengan suhu yang sesuai
2. Nasi yang dimasukan kedalam box masih dalam keadaan panas dan ditutup sehingga menyebabkan bakteri cepat tumbuh dalam kondisi tersebut yang menyebabkan nasi menjadi cepat basi
3. Puding yang disajikan kemungkinan sudah terlalu lama dari waktu pembuatan dan tidak disimpan pada suhu yang sesuai sehingga menyebabkan bakteri tumbuh dengan cepat
4. Banyaknya lalat yang masuk ke dalam area dapur (area memasak dan packing) akibat tirai plastik yang sering tersingkap sehingga dapat menyebabkan kontaminasi pada pangan
Berdasarkan kasus tersebut, agen yang dapat mencemari pangan tersebut adalah cemaran biologi (bakteri).
Adapun solusi yang kami berikan yaitu:
1. Disarankan untuk menambah kapasitas chiller dan freezer untuk menyimpan bahan baku
2. Untuk penyajian nasi box harus memperhatikan waktu pembuatan dan waktu penyajian jangan >4 jam (diberi label waktu pada kemasan box)
3. Selalu menggunakan bahan yang segar untuk memasak
4. Mengganti suplier snack dengan supplier yang sudah memiliki SLHS
5. Selalu menutup tirai plastik yang berada pada pintu keluar dapur agar lalat tidak dapat masuk dan melakukan pengendalian dengan menggunakan perangkap lalat
15 Oktober 2026 - 14:04 WIB #47
Terima kasih pak atas materi yang diberikan, materi ini sangat bagus dan menambah wawasan terhadap cemaran siap saji.
Di wilayah kerja saya khusus nya untuk tpp, terutama di pelabuhan kantin, makanan nya sudah jadi dan di pajang di etalase, untuk memasak nya di tempat lain sehingga untuk potensial cemaran tinggi,
Selain itu juga ada permasalahan lain banyak penjamah di wilayah kerja kami yang belum pernah mengikuti pelatihan/kursus penjamah makanan, hal ini berpengaruh pada penilaian dari tpp itu sendiri.
Menurut saya upaya yang bisa di lakukan menerapkan perinsip hsm, terutama pada pengankutan dan penyajian, dan menerepkan langkah2 pencegahan cemaran.
15 Oktober 2026 - 14:07 WIB #48
Oke....

Diskusi di CoP ini alhamdulillah telah berjalan baik dan lancar... Sepertinya kurang ya waktunya...?

Sementara kita tutup dulu ya topik ini...
Sampai jumpa bsk di tema yang lain yaitu PROGRAM PERSYARATAN DASAR (SSOP dan HACCP) oleh Coach Iffa

See you.....
15 Oktober 2026 - 14:09 WIB #49
Membalas @auliafitriani1
atau biarkan saja dibuka dulu sampai malam ini bu aulia, mungkin ada teman2 yg belum sempat karena kesibukan@auliafitriani1
15 Oktober 2026 - 14:16 WIB #50
Terima kasih Pak @miftarohim atas video edukasinya.
Saya Adib dari BKK Semarang, kembali merefresh tentang pentingnya pengetahuan mengenai cemaran pada media pangan ini.
Berdasarkan pengalaman kami di BKK Semarang, khusus sentra kantin di wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, risiko paling sering menjadi perhatian kami adalah potensi cemaran mikrobiologi, berdasarkan bagaimana menyimpan makanan matang yang disajikan, waktu pemasakan hingga penyajian, HSP, suhu penyimpanan dan lain-lain. Tanpa mengesampingkan risiko cemaran kimia maupun fisik, risiko biologi ini cukup menjadi perhatian bagi kami.
Beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya : selalu tak henti untuk memberikan pemahaman dan penjelasan mengenai higiene sanitasi baik penjamah maupun makanannya. Edukasi ini dilakukan dengan metode persuasif kepada penjamah pangan di sentra kantin tersebut.
15 Oktober 2026 - 14:28 WIB #51
Izin saya Indah dari wilker boom baru palembang. Terima kasih atas sharing informasinya, Pak. Semoga materi ini menambah wawasan dan menjadi bekal bagi kita dalam meningkatkan pengawasan serta penerapan keamanan pangan di tempat kerja. Cemaran yang sering terjadi di wilker saya adalah mikrobiologi dimana cemarannya berupa Ecoli pada air bersih dan air minum. Kontaminasi silang terjadi mungkin disebabkan oleh penggunaan wadah / tempat penyimpan air sementara yang tidak tertutup rapat yang berkemungkinan di cemari oleh vektor (lalat), dan penggunaan gayung air yang di letakkan sembarang dan ada kemungkinan air bersih yang mengandung ecoli di rebus tapi belum sampai titik membunuh E.coli sehingga air minum tetap ada bakteri E.coli nya. Terima kasih bapak