Logo Bapelkes
Rabu, 28 Oktober 2026

Diskusi: Brainstorming permasalahan di tempat kerja

DISKUSI SELESAI
21 Oktober 2026 - 08:21 WIB #1
Rekan-rekan TSL BBKK/BKK Kemenkes, mari kita berbagi pengalaman dan berdiskusi:
1. Apa permasalahan paling sering ditemukan dalam pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada TPP di wilayah kerja kita?
2. Apa kendala yang dihadapi saat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut hasil pengawasan?
3. Bagaimana kita dapat memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan?
Simpulan Akhir Diskusi
Pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di wilayah kerja BBKK/BKK Kemenkes masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain penerapan higiene dan sanitasi yang belum konsisten, penggunaan APD yang belum optimal, pengendalian vektor, pengelolaan sampah, serta pengendalian waktu dan suhu pangan yang belum sesuai. Selain itu, keterbatasan sumber daya, kompetensi petugas, sarana pemeriksaan, dan tindak lanjut hasil pengawasan menjadi kendala dalam mewujudkan keamanan pangan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengawasan berbasis risiko, peningkatan kompetensi petugas, edukasi kepada pengelola dan penjamah pangan, serta tindak lanjut dan verifikasi perbaikan secara berkelanjutan. Keberhasilan IKL tidak hanya diukur dari pemenuhan checklist atau persyaratan administratif, tetapi dari kemampuan mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya pangan secara efektif guna mencegah keracunan dan melindungi kesehatan masyarakat.

Anda harus masuk ke akun Anda terlebih dahulu untuk ikut serta dalam diskusi ini.

Login Sekarang
20 Oktober 2026 - 13:00 WIB #2
1. Ditemukan tanda keberadaan vektor, sanitasi lingkungan restoran dan gerai (terutama dapur) tidak maksimal, manajemen suhu belum berjalan/belum dilaksanakan di internal restoran dan gerai hanya oleh pihak pusat restoran dan gerai tersebut, penjamah pangan di restoran banyak yang belum memiliki sertifikat/surat keterangan mengikuti pelatihan keamanan pangan (tidak memenuhi ketentuan 50% penjamah pangan dari total penjamah bersertifikat), ruang/bangunan restoran atau gerai terbatas sehingga kemungkinan terjadinya cross contamination
2. Keterbatasan reagen untuk uji cepat mikrobiologi dan kimia pangan, persepsi dan perspektif penilaian antar petugas BBKK tentang suatu kondisi saat penilaian berbeda, belum ada sanksi administratif yang tegas baik dari aturan kemenkes maupun pengelola bandara terhadap pelaku usaha tenant tersebut baik restoran maupun gerai
3. Kolaborasi dengan injourney untuk memasukan sanksi administratif atau aturan terkait tentang kewajiban pelaku usaha makanan untuk memiliki SLHS, mengedukasi penjamah pangan setiap IKL tentang manajemen suhu di tenantnya masing-masing
20 Oktober 2026 - 13:02 WIB #3
1. Permasalahan yang paling sering ditemukan saat IKL pada TPP
a. Penjamah pangan belum konsisten menggunakan APD, seperti celemek, masker dan penutup kepala.
b. Tempat sampah tidak tertutup
c. Peralatan bersih belum terlindung dari kontaminasi.
d. Sarana higiene sanitasi belum memadai, misalnya wastafel tidak dilengkapi sabun dan ventilasi tidak memiliki kasa antiserangga.
e. Masih ditemukan praktik penanganan pangan yang berisiko, seperti penggunaan es batu yang sumber airnya belum dapat dipastikan memenuhi persyaratan.

2. Kendala dalam mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut
a. Identifikasi bahaya --> pemeriksaan terkadang masih berfokus pada kondisi fisik dan kelengkapan sarana. Untuk bahaya biologis, kimia, dan bahaya yang muncul selama proses pengolahan belum selalu teridentifikasi.
b. Penilaian risiko -->belum semua petugas memiliki persepsi yang sama dalam menentukan tingkat risiko dan prioritas tindak lanjut.
c. Tindak lanjut hasil pengawasan --> pengelola TPP terkadang memiliki keterbatasan biaya, sarana, atau pemahaman. Perlu adanya koordinasi lintas sektor agar rekomendasi perbaikan dapat dilaksanakan dan dipantau.

3. Cara memperkuat pengawasan agar benar-benar mencegah keracunan pangan
Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu diperkuat yaitu
a. Menggeser fokus IKL dari checklist ke proses dan perilaku. Petugas perlu menilai bagaimana pangan diterima, disimpan, diolah, dikemas, dan disajikan, termasuk praktik higiene penjamah serta pengendalian suhu dan kontaminasi silang.
b. Memprioritaskan bahaya berdasarkan risiko. Temuan yang berpotensi langsung menyebabkan penyakit harus mendapatkan perhatian lebih besar, misalnya penggunaan air atau es yang tidak memenuhi persyaratan, penyimpanan pangan pada suhu yang tidak aman, dan kontaminasi silang.
c. Selain melakukan pengawasan rutin, perlu melakukan pemeriksaan khusus atau investigasi apabila terdapat dugaan keracunan pangan atau kejadian luar biasa.
d. Memperkuat penyuluhan dan peningkatan pengetahuan penjamah pangan.
e. Memastikan tindak lanjut dan evaluasi. Rekomendasi hasil IKL perlu disertai target perbaikan, pemantauan, dan pemeriksaan ulang sesuai tingkat risikonya.
f. Memperkuat koordinasi lintas sektor. Dukungan pengelola kawasan, pemilik usaha, serta instansi terkait sangat penting agar perbaikan dapat dilaksanakan.
20 Oktober 2026 - 13:09 WIB #4
1. Ditemukan fasilitas sarana prasarana yang belum memenuhi standar, personal hygiene yang belum diterapkan secara optimal, penjamah makanan yang belum memiliki sertifikat.
2. Keterbatasan alat pemeriksaan sampel makanan secara kimia dan mikrobiologi.
3. Memperkuat dukungan lintas sektor terkait di area pengawasan,
20 Oktober 2026 - 13:10 WIB #5
1. Permasalahan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pada TPP
Permasalahan yang sering ditemukan antara lain,kurangnya kesadaran penjamah makanan untuk menerapkan higiene personal hygiene penjamah makanan, belum mememisahakan tempat penyimpannan makanan menurut jenis bahan makanannya antara bahan mentah dan yang sudah diolah serta sanitasi peralatan dan lingkungan yang belum memenuhi persyaratan. Selain itu, pencatatan suhu dan penerapan prinsip keamanan pangan belum dilakukan secara konsisten. Masih ditemukan vektor penyakit seperti lalat, tikus, disekitar lingkungan TPP. Belum terpaparnya penjamah makanan dan pengelola TPP tentang edukasi keamanan pangan yang baik.
2. Kendala dalam identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan tindak lanjut
Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan waktu dan SDM, kurangnya pemahaman pengelola TPP terhadap bahaya biologis, kimia, dan fisik, serta belum optimalnya kemampuan menentukan tingkat risiko berdasarkan dampak dan kemungkinan terjadinya bahaya. Tindak lanjut juga sering terkendala oleh rendahnya komitmen pengelola, keterbatasan biaya perbaikan, dan belum konsistennya pemantauan terhadap rekomendasi hasil IKL.
3. Upaya memperkuat pengawasan agar mencegah keracunan pangan
Pengawasan perlu dilakukan dengan pendekatan berbasis risiko, tidak hanya berpedoman pada checklist, tetapi juga menilai proses pengolahan pangan dari penerimaan bahan baku hingga penyajian. Petugas perlu memprioritaskan bahaya kritis, melakukan edukasi dan pembinaan, memberikan rekomendasi perbaikan yang terukur, serta memastikan tindak lanjut melalui inspeksi ulang. Selain itu, penguatan penerapan prinsip HACCP, pencatatan suhu, higiene penjamah, dan ketertelusuran pangan penting untuk mencegah kejadian keracunan pangan.
20 Oktober 2026 - 13:25 WIB #6
Permasalahan yang sering ditemukan antara lain masih kurangnya penerapan higiene sanitasi pangan secara konsisten, baik dari aspek penjamah makanan, bahan pangan, proses pengolahan, peralatan, maupun lingkungan. Contohnya, penjamah makanan belum menerapkan cuci tangan dengan benar dan penggunaan APD, penggunaan alat yang sama untuk bahan mentah dan makanan matang. Selain itu, masih ditemukan keterbatasan sarana sanitasi, seperti fasilitas cuci tangan yang belum memadai, pengelolaan sampah yang kurang baik.
20 Oktober 2026 - 13:26 WIB #7
1. tempat sampah yang belum tertutup, makanan matang yang dipajang terlalu lama pada suhu ruang, serta penjamah pangan yang belum menggunakan APD secara lengkap dan sesuai kebutuhan. Selain itu, masih terdapat penjamah pangan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman terbatas mengenai higiene dan sanitasi, seperti menjaga kebersihan diri, serta menerapkan praktik pengolahan dan penyajian pangan yang aman.
2. keterbatasan alat dan bahan atau reagent untuk melakukan pemeriksaan
3. Pengawasan dapat diperkuat agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan melalui penerapan 6 prinsip higiene sanitasi pangan, yaitu pemilihan bahan pangan, penyimpanan bahan pangan, pengolahan pangan, penyimpanan pangan matang, pengangkutan pangan, serta penyajian pangan.
20 Oktober 2026 - 13:27 WIB #8
1. Apa permasalahan paling sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pada TPP di wilayah kerja kita?
Menurut saya, permasalahan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pada TPP adalah masih adanya ketidaksesuaian dalam penerapan higiene sanitasi pangan, terutama pada kebersihan peralatan makan, pengendalian hama, dan konsistensi penerapan prosedur sanitasi.

Sebagai contoh, berdasarkan hasil pengawasan tenant, secara umum kebersihan ruangan dan bangunan sudah cukup baik, tetapi masih ditemukan beberapa peralatan makan, seperti garpu, yang kebersihannya belum optimal. Selain itu, pada beberapa tenant ditemukan kecoa atau anak kecoa di area dapur, meskipun sebagian sudah mati dan pengendalian hama telah menggunakan pihak ketiga.

Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan persyaratan sanitasi secara umum belum tentu menjamin seluruh proses pengolahan makanan berjalan aman. Oleh karena itu, pengawasan perlu memperhatikan praktik sehari-hari, bukan hanya kondisi fisik saat inspeksi.

2. Apa kendala yang dihadapi saat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut hasil pengawasan?
Kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan waktu dan jumlah petugas dibandingkan dengan banyaknya tenant yang harus diawasi, sehingga pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut belum dapat dilakukan secara intensif pada seluruh tenant.

Selain itu, identifikasi bahaya terkadang membutuhkan pengamatan lebih mendalam terhadap proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan. Bahaya mikrobiologis, misalnya, tidak selalu dapat diketahui hanya melalui pengamatan visual. Penilaian risiko juga perlu mempertimbangkan jenis bahaya, kemungkinan terjadinya kontaminasi, dan dampaknya terhadap konsumen.

Kendala lainnya adalah tindak lanjut hasil pengawasan perlu dipastikan melalui bukti perbaikan yang nyata. Misalnya, setelah ditemukan kecoa di area dapur, petugas tidak cukup hanya menerima informasi bahwa tenant telah melakukan pest control, tetapi juga perlu mengevaluasi efektivitas tindakan tersebut dan memastikan sumber serta kondisi yang memungkinkan hama muncul kembali telah ditangani.

3. Bagaimana kita dapat memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan?
Menurut saya, pengawasan dapat diperkuat dengan menerapkan pendekatan berbasis risiko. Petugas tidak hanya memeriksa kelengkapan checklist, tetapi juga menilai proses pengolahan makanan dari penerimaan bahan baku hingga penyajian.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu:
1. Memprioritaskan pemeriksaan berdasarkan risiko, terutama pada tenant yang memiliki temuan berulang atau menangani pangan berisiko tinggi.
2. Melakukan observasi langsung terhadap praktik penjamah pangan, termasuk kebersihan tangan, pemisahan bahan mentah dan makanan matang, serta pengendalian suhu dan waktu penyimpanan.
3. Memastikan tindak lanjut hasil IKL, dengan mencatat temuan, memberikan rekomendasi perbaikan, menetapkan batas waktu, dan melakukan pemeriksaan ulang sesuai tingkat risikonya.
4. Memanfaatkan hasil pemeriksaan laboratorium apabila diperlukan, seperti sampel pangan, air, atau usap peralatan untuk membantu mengidentifikasi potensi kontaminasi.
5. Melakukan edukasi dan pembinaan secara berkelanjutan kepada pengelola dan penjamah pangan agar memahami bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab sehari-hari, bukan hanya saat inspeksi.
6. Memperkuat dokumentasi dan evaluasi hasil pengawasan, misalnya melalui rekapitulasi digital sederhana untuk memantau temuan, status perbaikan, dan tenant yang memerlukan pengawasan ulang.
20 Oktober 2026 - 13:28 WIB #9
1. Permasalahan yang paling sering ditemukan saat IKL di TPP diantaranya:
a. Penjamah belum menggunakan APD lengkap (celemek, penutup kepala, masker, sarung tangan) secara konsisten
b. Pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit (lalat, kecoa, tikus) belum optimal, terutama di area pembuangan sampah dan dapur
c. Pengelolaan limbah dan sampah belum memadai (tempat sampah terbuka, tidak dipisah, terlambat diangkut)
d. Suhu penyimpanan dingin/beku dan suhu penyajian makanan panas tidak dipantau (tidak ada termometer atau pencatatan)
e. Waktu antara pengolahan dan penyajian terlalu lama (makanan masak jauh sebelum dikonsumsi)
f. Banyak TPP yang belum memiliki SLHS maupun LHS
g. Bangunan TPP terbuka dan rentan terkontaminasi cemaran

2. Kendala yang dihadapi
a. Pemahaman pengelola TPP tentang bahaya biologis, kimia, dan fisik masih rendah, sehingga analisis bahaya (prinsip HACCP) belum diterapkan.
b. Pengamatan IKL bersifat sesaat, sementara bahaya sering muncul pada proses tertentu dan waktu tertentu yang tidak terlihat saat inspeksi.
c. Titik kendali kritis (CCP) seperti suhu pemasakan, pendinginan, dan penyimpanan tidak diukur langsung karena adanya keterbatasan alat ukur di lapangan (termometer makanan, rapid test).
d. Rekomendasi perbaikan tidak dijalankan atau lambat dipenuhi karena keterbatasan biaya, tenaga, atau komitmen pengelola

3. Cara memperkuat pengawasan :
a. Pengawasan dilakukan dengan berbasis risiko
b. Menerapkan pendekatan HACCP pada setiap TPP
c. Edukasi dan pelatihan berkelanjutan bagi penjamah
d. melakukan pemeriksaan sampel makanan, air, dan usap alat secara berkala
e. menggunakan sistem pencatatan digital agar riwayat inspeksi, temuan berulang, dan status tindak lanjut mudah dilacak
f. Melakukan pengukuran langsung (suhu, klorin sisa, usap alat)
20 Oktober 2026 - 13:28 WIB #10
1. permasalahan paling sering ditemukan dalam pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada TPP di wilayah kerja BBKK Tanjung Piok yaitu Masih ditemukannya temuan berulang terkait ketidaksesuaian higiene dan sanitasi pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang dilakukan oleh BBKK Tanjung Priok. Salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian adalah pengelolaan makanan siap saji di sentra kantin pelabuhan, terutama makanan matang yang dimasak sejak pagi dan disajikan hingga siang hari pada suhu ruang tanpa pengendalian waktu dan suhu yang memadai.
Permasalahan lainnya yaitu penjamah makanan yang tidak menggunakan APD secara lengkap seperti masker, celemek dan penutup rambut, penyimpanan peralatan bersih yang belum terlindungi dari vektor/BPP, pangan kemasan yang tidak terlindungi atau tidak menggunakan penutup, serta masih ditemukannya vektor/BPP di area TPP. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan pengawasan higiene dan sanitasi secara internal oleh pengelola TPP belum optimal dan pengelola masih cenderung menunggu pemeriksaan dan pembinaan dari petugas BBKK Tanjung Priok untuk mengetahui dan memperbaiki ketidaksesuaian yang ditemukan. Beberapa temuan yang masih berulang antara lain:
1. pengelolaan makanan siap saji di sentra kantin pelabuhan, terutama makanan matang yang dimasak sejak pagi dan disajikan hingga siang hari pada suhu ruang tanpa pengendalian waktu dan suhu yang memadai.
2. Penjamah makanan tidak menggunakan APD secara lengkap, seperti masker, celemek, dan penutup rambut saat melakukan pengolahan dan penyajian makanan.
3.. Penyimpanan peralatan bersih belum terlindungi secara optimal dari vektor dan binatang pembawa penyakit (BPP).
4. Pangan tidak dikemas/ tidak menggunakan penutup atau perlindungan yang memadai.
5. Masih ditemukan vektor/BPP di area Tempat Pengelolaan Pangan.
6. Penyimpanan pangan tidak terlindungi dari bahan kimia / vektor/BPP
7. Tempat cuci tangan tidak dilengkapi air mengalir dan tidak dilengkapi sabun
8. Tempat memajang pangan matang kontak dengan vektor / BPP

2. kendala yang dihadapi saat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut hasil pengawasan?

Menurut saya Kendala yang dihadapi adalah pemeriksaan IKL sering kali hanya menggambarkan kondisi TPP pada saat inspeksi. Padahal, kondisi pengolahan makanan dapat berubah setelah petugas meninggalkan lokasi.

Sebagai contoh, makanan yang terlihat bersih dan tertata saat pemeriksaan belum tentu aman apabila dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Bahaya mikrobiologi juga tidak selalu dapat dikenali melalui pengamatan visual.

Selain itu, keterbatasan alat pengukur suhu pangan, pencatatan waktu pengolahan dan penyajian yang belum konsisten, serta keterbatasan sumber daya untuk melakukan pemeriksaan dan verifikasi ulang dapat menjadi kendala dalam penilaian risiko.

Dalam memastikan tindak lanjut, tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa pengelola benar-benar melaksanakan tindakan koreksi, bukan hanya menerima rekomendasi atau menandatangani berita acara pemeriksaan.


3. Menurut saya, pengawasan perlu dikembangkan dari pendekatan yang berorientasi pada checklist menjadi pengawasan berbasis risiko dan pengendalian proses.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

1. Memprioritaskan bahaya kritis. Kita sebagai Petugas tidak hanya menghitung jumlah ketidaksesuaian, tetapi juga menilai potensi bahaya yang dapat langsung mengakibatkan pangan tidak aman.
2. Memperkuat pengendalian waktu dan suhu. Pengelola perlu mencatat waktu makanan selesai dimasak, mulai disajikan, serta batas waktu penyajian atau tindakan pengendaliannya sesuai prosedur yang ditetapkan.
3. Melakukan verifikasi di lapangan. Kita sebagai Petugas perlu mengamati proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan, serta memeriksa catatan pengendalian dan melakukan pengukuran .
4. Memastikan tindak lanjut berbasis risiko. Temuan berisiko tinggi harus segera dikendalikan, sedangkan temuan lainnya ditindaklanjuti melalui pembinaan, batas waktu perbaikan, dan verifikasi ulang.
5. Mengembangkan pencatatan sederhana dan berkelanjutan.
Menurut saya Melalui pendekatan tersebut, IKL tidak berhenti pada penilaian memenuhi atau tidak memenuhi persyaratan, tetapi menjadi alat untuk mendeteksi bahaya, mendorong tindakan koreksi, dan mencegah pangan tidak aman disajikan kepada konsumen.
20 Oktober 2026 - 13:28 WIB #11
1. Sebagai wilayah pesisir Gunungkidul yang berbasis batuan karst, ketersediaan air bersih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas secara kontinu sering kali menjadi kendala utama bagi TPP di sekitar Pelabuhan Baron.
2. Penilaian risiko sering kali bersifat visual saja karena keterbatasan sanitarian kit untuk parameter mikrobiologi atau kimia berbahaya.
3. Perlunya edukasi lapangan secara lansung. Selain menyerahkan dan menyampaikan hasil IKL kepada pemilik TPP ,juga perlu adanya edukasi terkait hygiene sanitasi pangan langsung kepada penjamah pangan saat mereka bekerja.
20 Oktober 2026 - 13:29 WIB #12
1. Permasalahan
- Tidak ada petunjuk atau pedoman cara cuci tangan,
- Tidak ada aturan tertulis penggunaan loker
- Penjamah tidak memakai APD pada area dapur
- Tidak terdapat dokumen monitoring chiller dan freezer
- Belum memiliki SLHS
- Tidak tersedia pesan pesan tentang hygiene sanitasi bagi penjamah pangan.
- Tempat sampah tidak tertutup dan belum dipisahkan antara sampah organic dan anorganik
- Penjamah yang memiliki sertifikat pelatihan keamanan pangan <50% jumlah penjamah

2. Kendala
- Kepatuhan pengelola TPP yang masih rendah
- Saat inspeksi tidak bertemu dengan pengelola TPP hanya bertemu dengan karyawan saja sehingga rekomendasi yang disampaikan tidak selalu ditindaklanjuti
- Kurangnya koordinasi dan kolaborasi lintas sektor karena agenda yang sering bertabrakan
- Keterbatasan biaya pada TPP dalam melakukan uji laboratorium atau perbaikan sarana
- Tidak adanya kebijakan khusus dari PT Angkasa Pura dalam kepemilikan sertifikat penjamah dan SLHS

3. Cara memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan
- Mengubah strategi IKL dengan tidak hanya menilai fasilitas dan sarana yang tersedia tetapi benar benar mengulik hal hal yang dapat mencegah kontaminasi
- Membangun koordinasi dan kolaborasi dengan dengan PT Angkasa Pura
- Adanya kebijakan khusus dari pengelola bandara dalam pengawasan keamanan pangan
- Edukasi penjamah pangan jika ditemukan masalah saat IKL
- Adanya laporan tindaklanjut rekomendasi dari tenant
20 Oktober 2026 - 13:29 WIB #13
Terimakasih pak agung atas pertanyaannya, izin menjawab
1. Apa permasalahan paling sering ditemukan dalam pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada TPP di wilayah kerja kita?
Selama melaksanakan IKL di wilayah kerja Tanjung Wangi, berdasarkan formuli penilaian yang kami gunakan, kami masih menemukan:
a. Beberapa kali masih terlihat ada vektor pada TPP
b. Penyimpanan bahan makanan belum dipisahkan dengan tepat
c. Terdapat potensi penyimpanan makanan matang lebih dari 4 jam

2. Apa kendala yang dihadapi saat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut hasil pengawasan?
Berdasarkan observasi kami, dapat disimpulkan bahwa kendala yang kami hadapi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran pengelola/penanggungjawab TPP mengenai keamanan pangan. Selain hal tersebut, kurangnya dana untuk perbaikan bangunan dan fasilitas sanitasi menghambat perbaikan berkelanjutan pada faktor kondisi lingkungan.
Disamping itu, belum adanya kebijakan dari pengelola Pelabuhan untuk menegakkan disiplin dari pengelola/penanggungjawab TPP.

3. Bagaimana kita dapat memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan?
Menurut saya, hal yang dapat dilakukan antara lain:
a. Menambah penilaian inspeksi TPP menjadi berbasis risiko
b. Memperkuat pembinaan dan tindakan korektif, dapat dilakukan dengan bermitra dengan pihak pengelola Pelabuhan.
c. Meningkatkan kompetensi dan kesadaran tanggungjawab penjamah makanan
20 Oktober 2026 - 13:32 WIB #14
Selamat Siang, terima kasih Pak Agung atas bahan diskusinya. Izin jump in,

1. Permasalahan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pada TPP
Di wilayah kerja Bandara Juanda, permasalahan yang sering ditemukan antara lain penggunaan APD oleh penjamah pangan yang belum optimal, tempat sampah yang belum dilengkapi pedal kaki dan belum dipisahkan antara sampah organik dan anorganik, serta keterbatasan tempat penyimpanan barang pribadi karena ruang tenant yang relatif sempit. Selain itu, masih ditemukan sarana cuci tangan yang belum dilengkapi petunjuk mencuci tangan dan penerapan higiene sanitasi yang belum konsisten.

2. Kendala dalam identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan tindak lanjut pengawasan
Pelaksanaan IKL masih cenderung berfokus pada checklist, sehingga identifikasi bahaya dan penilaian risiko belum selalu dilakukan secara mendalam. Selain itu, belum semua petugas memahami cara menghitung dan menentukan tingkat risiko. Dalam tindak lanjut, pengelola TPP terkadang terkendala biaya, fasilitas & sarana, dan pemahaman mengenai pentingnya higiene sanitasi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petugas serta pendampingan kepada pengelola agar perbaikan dapat dilakukan sesuai prioritas risiko.

3. Upaya memperkuat pengawasan berbasis risiko
Pengawasan perlu dilakukan dengan mengamati proses penanganan pangan, mengidentifikasi potensi bahaya biologis, kimia, dan fisik, serta menentukan prioritas perbaikan. Prinsip dasar HACCP dapat diterapkan sesuai kondisi TPP, misalnya melalui pemantauan suhu dan pencegahan kontaminasi silang. Hasil IKL juga perlu disertai rekomendasi yang jelas melalui rapor hasil IKL, edukasi kepada pengelola dan penjamah pangan, serta pemantauan tindak lanjut agar pengawasan tidak hanya menilai kepatuhan terhadap checklist, tetapi juga mencegah risiko keracunan pangan.
20 Oktober 2026 - 13:33 WIB #15
1. Berdasarkan hasil IKL banyak tpp yang tidak menjaga personal hygine , mayoritas pemilik tpp tidak menggunakan apd. contohnya tidak menggunakan sarung tangan, penjamah habis pegang uang langsung pegang makanan. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kontaminasi silang
2. -Sebagian pengelola TPP, terutama warung makan sederhana atau semi permanen, belum memahami pentingnya menjaga suhu makanan, mencuci tangan, mencegah kontaminasi silang, dan menerapkan higiene sanitasi secara konsisten
-Tindak lanjut hasil pengawasan belum optimal. Temuan ketidaksesuaian sudah dicatat, tetapi belum disertai batas waktu perbaikan, penanggung jawab, verifikasi ulang, dan sanksi sesuai ketentuan apabila pelanggaran tidak diperbaiki.

3. Pengawasan TPP yang efektif harus mengutamakan pencegahan, bukan sekadar pemenuhan checklist. Petugas perlu menggabungkan inspeksi lapangan, penilaian risiko, edukasi, pemeriksaan berbasis indikasi, dan verifikasi tindak lanjut. Indikator keberhasilan pengawasan adalah terkendalinya bahaya pangan dan menurunnya risiko keracunan, bukan hanya banyaknya TPP yang dinyatakan memenuhi persyaratan.
20 Oktober 2026 - 13:34 WIB #16
1. Apa permasalahan paling sering ditemukan dalam pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada TPP di wilayah kerja kita?
- kebersihan lingkungan dan peralatan belum konsisten, penyimpanan bahan pangan belum tertata, serta makanan matang sering dibiarkan pada suhu ruang dalam waktu cukup lama. Kesadaran penjamah terhadap higiene dan keamanan pangan juga masih perlu ditingkatkan.

2. Apa kendala yang dihadapi saat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut hasil pengawasan?
- keterbatasan sarana warung dan kebiasaan penjamah yang sudah berlangsung lama, sehingga rekomendasi perbaikan tidak selalu langsung diterapkan. Selain itu, sulit memastikan kondisi pangan sepanjang waktu karena pengawasan hanya dilakukan pada saat kunjungan. juga keterbatasan peralatan sankit yang ada.

3. Bagaimana kita dapat memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan?
- Pengawasan perlu ditingkatkan pada praktik yang berisiko menyebabkan keracunan pangan, seperti kebersihan tangan dan peralatan, pemisahan makanan mentah dan matang, penyimpanan, serta waktu dan suhu penyajian. Hasil IKL sebaiknya diikuti dengan edukasi sederhana, rekomendasi yang mudah diterapkan, dan kunjungan ulang untuk memastikan perbaikannya.
20 Oktober 2026 - 13:39 WIB #17
1. masih ditemukan vektor dan BPP di TPP, tempat sampah yang belum tertutup, penjamah makanan tidak menggunakan APD saat melayani konsumen, gudang makanan masih menyatu dengan ruang peralatan masak karena ruang tenan yang sempit, penjamah makanan belum memiliki sertifikat dan TPP yang belum memiliki slhs.

2. keterbatasan alat dan bahan dalam pemeriksaan parameter kimia dan mikrobiologi pangan, rekomendasi IKL tidak dijalankan oleh pengelola TPP.

3. koordinasi lintas sektor, pengawasan berkelanjutan oleh BKK ke Tenan-tenan TPP. dan pengawasan TL yang dijalankan oleh TPP.
20 Oktober 2026 - 13:40 WIB #18
1. Permasalahan yang sering ditemukan saat IKL adalah penerapan higiene sanitasi pangan yang belum konsisten, dilihat dari aspek bahan pangan, proses pengolahan, peralatan, penyajian, faktor lingkungan termasuk dari sisi penjamah pangannya.
2. Keterbatasan sarana, prasarana, dan SDM, belum ada tindak lanjut yang dapat mengikat dengan konsekuensi.
3. Memperkuat kapasitas internal, dan dukungan lintas sektor termasuk pada regulator
20 Oktober 2026 - 13:41 WIB #19
Selamat Siang dan Izin menjawab Pak,

1. Permasalahan Paling Sering Ditemukan dalam IKL di TPP Pelabuhan
Saat turun ke lapangan untuk melakukan IKL, tiga masalah utama ini hampir selalu menjadi temuan berulang yaitu Fasilitas cuci tangan (wastafel) seringkali tidak dilengkapi sabun dan pengering, perilaku Penjamah Makanan yang tidak tidak disiplin menggunakan APD, dan penjamah masih memegang uang dan makanan tanpa mencuci tangan sebelumnya serta Bangunan kantin yang semi membuat cemaran fisik mudah terkontaminasi dengan makanan dan keberadaan vektor juga mengganggu.
2. Identifikasi bahaya, menilai resiko dan tindak lanjut :
Formulir tidak sesuai dengan kondisi lapangan jdi kebanyakan tidak mengena utk identifikasi dan menilai bahaya. misal kantin kecil pelabuhan menggunakan formulir Rumah makan dan juga keterbatasan sanitarian kit yang pembacaan cepat, lemahnya pengetahuan penjamah dikarenakan pendidikan yang rendah membuat lebih sulit untuk melakukan pendisiplinan hygine perseorangan dan sanksi hukum dari pelindo belum ada dan keterbatasan modal pemilik untuk perbaikan dan juga PT Pelindo yang belum ada pendanaan dan perancangan khusus utk pengelolaan tempat kantinnya sesuai dengan persyaratan kesehatan.

3. Kami terus melakukan pemeriksaan sanitasi rutin dengan tetap selalu memberikan edukasi secara personal berharap dengan lebih dekat maka kesadaran akan pentingnya personal hygiene akan tercipta dan berdisiplin, kami juga memberikan sedikit demi sedikit ilmu / update ilmu ke kantin - kantin tentang pengamanan pangan sambil memberikan solusi yang paling sederhana sehingga tidak mengeluarkan modal yang cukup besar untuk pemilik. serta paling utama kami terus mendekatkan diri dengan PT pelindo agar jika ada pendanaan bisa merenovasi bangunan kantin agar sesuai persyarat kesehatan dari segi bangunan agar kontaminasi cemaran fisik tidak terjadi dan membuat kantin lebih nyaman dan aman utk pengguna pelabuhan.

Terima kasih
20 Oktober 2026 - 13:42 WIB #20
1. Permasalahan yang sering ditemukan?
Berdasarkan kondisi di wilayah Bandara Juanda, permasalahan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada Tempat Pengolahan Pangan (TPP) antara lain:
a. penempatan peralatan pribadi yang belum sesuai,
b. ditemukannya vektor penyakit seperti kecoa meskipun dengan kepadatan rendah,
c. serta belum meratanya skrining kesehatan saat penerimaan pegawai dan pemeriksaan kesehatan berkala penjamah makanan pada tenant kecil.
d. Selain itu, meskipun formulir penilaian jasaboga telah menetapkan bahwa bahan kimia seperti desinfektan, sabun cuci, dan insektisida harus ditempatkan pada tempat khusus dan terkunci, dalam praktiknya masih ditemukan bahan kimia yang belum diletakkan sesuai ketentuan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kontaminasi kimia pada bahan makanan, terutama apabila penyimpanan dilakukan di dekat area persiapan, penyimpanan, atau penyajian pangan.
2. Kendala yang dihadapi saat identifikasi bahaya?
Kendala dalam pengawasan antara lain identifikasi bahaya yang masih sering dilakukan secara visual, penilaian risiko yang belum selalu mengaitkan temuan dengan potensi kontaminasi pangan, serta tindak lanjut yang belum selalu terukur. Penggunaan checklist memang membantu memastikan kesesuaian persyaratan, tetapi petugas perlu melakukan verifikasi langsung apakah ketentuan tersebut benar-benar diterapkan, misalnya memastikan lemari kimia terkunci, mudah diakses hanya oleh petugas yang berwenang, dan tidak berada dekat dengan bahan makanan.
3. Bagaimana memperkuat pengawasan agar tidak berorientasi pada checklis?
Untuk memperkuat pengawasan, pemeriksaan sebaiknya berorientasi pada pencegahan risiko, bukan hanya pengisian checklist. Tindak lanjut setiap temuan perlu disertai rekomendasi yang jelas, penanggung jawab, batas waktu perbaikan, dan verifikasi ulang. Temuan bahan kimia yang tidak sesuai penempatan, vektor penyakit, atau penjamah yang belum memiliki bukti pemeriksaan kesehatan perlu diberi prioritas karena berpotensi langsung menimbulkan kontaminasi pangan. Dengan demikian, pengawasan IKL diharapkan benar-benar mampu mencegah keracunan pangan di wilayah Bandara Juanda.
20 Oktober 2026 - 13:45 WIB #21
1. Permasalahan yang sering ditemukan antara lain penerapan higiene sanitasi pangan yang belum konsisten, terutama terhadap perilaku penjamah pangan yang belum menerapkan prinsip higiene dalam pengelolaan pangan, penggunaan APD yang belum sesuai, penyimpanan bahan pangan yang kurang tepat, pemisahan bahan mentah dan makanan matang yang belum optimal, serta pengendalian suhu penyimpanan dan penyajian makanan yang belum memadai, keterbatasan sarana sanitasi yang tersedia, pengelolaan sampah dan limbah yang belum optimal.
2. Kendala yang dihadapi seperti identifikasi bahaya masih berfokus pada kondisi yang terlihat saat inspeksi, sehingga bahaya biologis, kimia, dan fisik yang mungkin terjadi selama proses pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi pangan belum seluruhnya teridentifikasi. Selain itu, tindak lanjut hasil pengawasan belum selalu berjalan optimal karena keterbatasan sumber daya, komitmen pengelola TPP yang beragam, serta perlunya koordinasi dan evaluasi berkelanjutan dengan pihak pengelola pelabuhan atau bandara selaku pemilik atau pengelola fasilitas di pelabuhan dan bandara.
3. Kita dapat memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada checklist, tetapi benar-benar mencegah kejadian keracunan pangan yaitu dengan tidak hanya menilai apakah suatu persyaratan terpenuhi pada saat pemeriksaan (IKL), tetapi juga perlu mengevaluasi bagaimana pangan diolah, disimpan, diangkut, dan disajikan secara aman setiap hari dengan beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti : memprioritaskan pengawasan pada TPP dengan tingkat risiko tinggi, memperkuat identifikasi bahaya dan penerapan prinsip HACCP, khususnya pada tahapan kritis seperti pemasakan, pendinginan, penyimpanan, dan distribusi pangan, memberikan edukasi dan pembinaan secara berkelanjutan kepada pengelola serta penjamah pangan, memastikan setiap temuan memiliki rekomendasi perbaikan, penanggung jawab, target waktu, dan bukti tindak lanjut yang diverifikasi, meningkatkan koordinasi dengan pengelola pelabuhan dan bandara untuk mendukung kepatuhan terhadap persyaratan keamanan pangan bagi setiap tenan yang berusaha di wilayah pelabuhan dan bandara.
20 Oktober 2026 - 13:45 WIB #22
permasalahan yang sering di temukan di tempat kami
1. penyimpanan makanan yang masih belum sesuai, dan pembuatan makanan yang di luar lokasi.
2. tempat pengolaan yang tidak di tempat sehingga mempersulit pemeriksaan
3. memperkuat pengetahuan dan memperkuat penerapan prinsip HSP
20 Oktober 2026 - 13:46 WIB #23
1. Permasalahan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pada TPP

Permasalahan yang sering kami temukan di lapangan antara lain penggunaan APD oleh penjamah makanan yang belum konsisten, sarana dan prasarana yang masih perlu diperbaiki, serta masih ditemukannya vektor seperti lalat dan kecoa. Hal ini menjadi perhatian kami karena kebersihan lingkungan dan perilaku penjamah makanan sangat berpengaruh terhadap keamanan pangan.

2. Kendala dalam mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut

Kendala yang kami hadapi bukan hanya mengidentifikasi temuan, tetapi juga mendorong pengelola TPP agar konsisten melakukan perbaikan. Terkadang, perbaikan sarana membutuhkan waktu dan biaya, sementara kepatuhan penggunaan APD serta pengendalian vektor juga perlu terus diingatkan. Karena itu, diperlukan komunikasi dan pembinaan yang baik agar pengelola memahami bahwa perbaikan tersebut bukan sekadar memenuhi persyaratan pemeriksaan, tetapi untuk melindungi kesehatan masyarakat.

3. Bagaimana memperkuat pengawasan agar benar-benar mencegah keracunan pangan?

Menurut saya, pengawasan harus lebih mengedepankan pendekatan pembinaan dan pencegahan. Kita tidak cukup hanya memeriksa checklist, tetapi perlu melihat kondisi nyata di lapangan, menyampaikan temuan dengan jelas, dan memberikan rekomendasi yang bisa dilaksanakan oleh pengelola. Setelah itu, kita perlu memastikan perbaikannya benar-benar dilakukan. Dengan pendekatan yang komunikatif, konsisten, dan berkelanjutan, diharapkan pengelola TPP semakin sadar bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama untuk mencegah keracunan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat.
20 Oktober 2026 - 13:57 WIB #24
TeRImaksih pak agung untuk diskusi kali ini sangat menarik
menurut saya permasalahan yang sering di temukan pada TPP di wilayah kerja kami sebagai berikut:
1. Permasalahan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pada TPP Di Wilayah Kerja Manggar
• Higiene penjamah pangan belum konsisten, seperti tidak mencuci tangan dengan benar, kebiasaan menyentuh pangan siap saji secara langsung, serta kurangnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
• Pengendalian suhu dan waktu penyimpanan pangan belum sesuai, termasuk penyimpanan bahan mentah dan pangan matang yang berdekatan sehingga berisiko menimbulkan kontaminasi silang.
• Penerapan prinsip higiene sanitasi belum konsisten, meskipun sebagian TPP telah memiliki dokumen atau sertifikat yang dipersyaratkan.
• Pembinaan dan pengawasan belum berkelanjutan, sehingga temuan yang sama dapat berulang pada inspeksi berikutnya.

2. Kendala dalam identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan tindak lanjut
• Identifikasi bahaya masih berorientasi pada temuan fisik. Bahaya biologis, kimia, dan fisik tidak selalu dapat diidentifikasi hanya melalui pengamatan visual. Misalnya, pangan yang tampak normal belum tentu bebas dari mikroorganisme patogen.
• Keterbatasan sumber daya, seperti jumlah petugas, waktu inspeksi, sarana pengujian laboratorium, serta kemampuan teknis dalam pengambilan sampel dan interpretasi hasil.
• Kepatuhan pelaku usaha masih beragam. Sebagian pelaku usaha baru melakukan perbaikan ketika akan diperiksa, tetapi belum menjadikannya sebagai kebiasaan operasional.
• Tindak lanjut hasil IKL belum selalu terpantau sampai tuntas. Rekomendasi perbaikan dapat diberikan, tetapi verifikasi pelaksanaan, dokumentasi bukti, dan evaluasi efektivitas perbaikannya belum konsisten.

3. Strategi memperkuat pengawasan agar benar-benar mencegah keracunan pangan
Menurut saya, pengawasan perlu bergeser dari pendekatan checklist compliance menjadi pengawasan berbasis risiko dan pengendalian proses pangan.
- Prioritaskan TPP berdasarkan tingkat risiko. Pertimbangkan jenis pangan, proses pengolahan, kelompok konsumen yang dilayani, volume produksi, riwayat pelanggaran, dan kejadian keracunan pangan. TPP yang melayani kelompok rentan atau memiliki riwayat masalah perlu mendapat perhatian lebih besar.
- Amati proses, bukan hanya kondisi sarana. Petugas perlu melihat langsung proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pendinginan, pemanasan ulang, penyajian, serta kebersihan penjamah pangan. Pengukuran suhu dan waktu perlu dilakukan ketika relevan.
- Gunakan pendekatan analisis bahaya dan pengendalian titik kritis. Prinsip HACCP dapat membantu mengidentifikasi tahapan yang memerlukan pengendalian khusus, menetapkan batas kritis yang sesuai, serta menentukan tindakan koreksi apabila terjadi penyimpangan.
- Terapkan tindak lanjut berdasarkan tingkat risiko. Temuan kritis yang berpotensi langsung membahayakan konsumen harus segera ditangani sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Temuan lainnya perlu memiliki rekomendasi yang jelas, penanggung jawab, tenggat waktu, dan bukti perbaikan.
- Perkuat edukasi dan pendampingan pelaku usaha. Pembinaan sebaiknya berfokus pada perubahan perilaku dan kemampuan mengendalikan bahaya dalam kegiatan sehari-hari, bukan sekadar melengkapi dokumen.
- Evaluasi hasil pengawasan menggunakan indikator dampak. Selain jumlah IKL dan persentase TPP yang memenuhi persyaratan, pantau juga tingkat penyelesaian temuan, pengulangan pelanggaran, kepatuhan terhadap pengendalian suhu, serta kejadian dugaan keracunan pangan.
20 Oktober 2026 - 13:57 WIB #25
Selamat siang pak Agung. Beberapa pengalaman yang dapat di bagi :
1. Terkait permasalahan yang paling sering ditemukan dalam pelaksanaan IKL pd TPP, umumnya adalah rekomendasi pemenuhan fasilitas fisik, semisal sarana penyimpanan yang harus dipisah, peralatan yang belum memadai. Intinya jika berkaitan dengan pembiayaan biasanya agak sulit untuk tindaklanjut. Tetapi ada juga masalah dari sisi petugas yang seringkali berganti-ganti
2. Beberapa kendala yang dihadapi saat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan memastikan tindak lanjut pengawasan diantaranya : tidak mendapati momentum yang diharapkan, misalnya pada tahapan persiapan atau pengolahan yg tdk sedang berlangsung, keterbatasan sarana pemeriksaan, kurang lengkapnya informasi dari penjamah, kondisi TPP yang berubah-ubah. Kondisi lain yang pernah juga ditemui saat evaluasi adalah terjadinya pergantian vendor, tenant, atau personil (petugas penjamah)
3. cara memperkuat pengawasan agar tidak hanya berorientasi pada check list (benar2 mencegah kejadian keracunan pangan) mungkin dengan melaksanakan pengawasan berbasis risiko dan pengendalian proses keamanan pangan, artinya kita tidak hanya mengisi checklist kelengkapan tetapi memastikan pelaksanaan prosesnya dijalankan. Misal untuk penyimpanan bahan sudah tersedia fasilitas sesuai peruntukan, selanjutnya apakah pemisahannya sdh lgsng dijalankan atau belum, dlsb.
20 Oktober 2026 - 13:59 WIB #26
ijin menanggapi
1. a. persyaratan untuk memenuhi syarat IKL lengkap, tapi dalam pelaksanaannya masih belum diterapkan sesuai prinsip keamanan pangan.
b. kemudian pemahaman penjamah makanan yang belum baik terkait keamanan pangan.
c. IKL dilakukan hanya mengacu pada panduan cek list yang dibawa

2. a. keterbatasan alat & bahan
b. pemahaman pengelola TPP tentang pentingnya keamanan pangan
c. keterbatasan untuk melakukan langkah2 keamanan pangan terutama terkait tenaga dan biaya
d. komunikasi tertutup dari pengelola TPP, karena merasa diawasi/disalahkan

3. IKL dengan panduan cek list tetap dilakukan, tetapi juga mengidentifikasi bahaya yang berpotensi pada TPP tersebut. kemudian lakukan pendampingan terkait pengendalian bahaya tersebut dengan sistem komunikasi yang baik (asertif) agar pengelola tidak merasa diawasi/disalahkan.
20 Oktober 2026 - 14:06 WIB #27
Permasalahan di pelabuhan patimban tempat sya bertugas adalah yang sering ditemukan antara lain higiene dan sanitasi penjamah pangan belum optimal, fasilitas cuci tangan belum memadai, sanitasi peralatan kurang terjaga, pengendalian hama belum maksimal, serta penyimpanan bahan pangan yang belum sesuai dengan persyaratan suhu dan pemisahan bahan mentah dengan makanan matang.
20 Oktober 2026 - 14:07 WIB #28
Kendala yang sering dihadapi meliputi keterbatasan waktu pengawasan, belum optimalnya pemahaman petugas maupun pengelola TPP terhadap bahaya biologis, kimia, dan fisik, serta sulitnya memastikan konsistensi penerapan prosedur keamanan pangan setelah inspeksi selesai.