Logo Bapelkes
Rabu, 28 Oktober 2026

Diskusi: Analisis Masalah dan Alternatif Solusi

21 Oktober 2026 - 07:25 WIB #1
Sebelum kita memulai sesi diskusi hari ini, silakan cermati terlebih dahulu infografis "langkah bedah kasus keamanan pangan".
Seringkali saat menghadapi insiden krisis (seperti keracunan makanan), respons pertama di lapangan adalah panik atau mencari siapa staf yang bersalah. Namun, melalui alur pada infografis ini, kita diajak untuk melihat penyelesaian masalah sebagai sebuah ilmu yang terstruktur:
 Langkah 1 & 2: Kita belajar membedakan opini dengan fakta melalui Definisi Masalah (kesenjangan antara target HACCP 0 insiden dengan aktual wabah diare) dan menetapkan Deskripsi Permasalahan yang spesifik mencakup batasan Apa, Di mana, Kapan, serta Magnitudonya (25 bergejala, 3 ke IGD).
 Langkah 3: Kita diajak menggali Akar Masalah menggunakan teknik 5 Whys, yang membuktikan bahwa masalah sebenarnya bukan sekadar alat yang tertukar, melainkan kelemahan sistem (tidak adanya SOP inspeksi harian dan lambatnya pengadaan darurat).
 Langkah 4: Setelah akar sistem ditemukan, barulah kita bisa merumuskan Alternatif Solusi yang tepat sasaran, baik secara preventif (Ceklis Inspeksi Digital), korektif (Sistem One-Way Flow), maupun peningkatan kompetensi pekerja.

Anda harus masuk ke akun Anda terlebih dahulu untuk ikut serta dalam diskusi ini.

Login Sekarang
21 Oktober 2026 - 07:29 WIB #2
Diskusi Tahap 1: Fakta vs Asumsi dalam Rumusan Masalah Anda
teman-teman sekalian pasti sudah menetapkan rumusan masalah. Menarik sekali! Namun, mari kita uji seberapa tajam "kacamata" kita.
Seringkali kita merumuskan masalah berdasarkan asumsi (contoh: "staf kurang disiplin"). Padahal, masalah harus berbasis data (Apa, Di mana, Kapan, Seberapa Besar dampaknya).
Pertanyaan Pemantik Hari Ini:
1. Coba baca ulang deskripsi masalah kelompok Anda. Apakah sudah 100% fakta/angka, atau masih ada opini di dalamnya?
2. Indikator/standar apa yang paling jelas "jebol" atau gagal dicapai dari kasus tersebut?
21 Oktober 2026 - 12:57 WIB #3
Membalas @agus.dwinanto77
Ijin Pak Agus @agus.dwinanto77
1. Saya rasa deskripsi masalah saya sudah fakta, tetapi untuk angka saya belum menemukannya. Bagaimana sebaiknya?
2. Menurut saya SOP/ Sistem yang belum terbentuk dalam pengelolaan TPP yang belum dicapai
21 Oktober 2026 - 13:00 WIB #4
Membalas @fata.islamy
faktanya tidak harus berbentuk angka-angka, bisa dalam bentuk gambar atau testimoni dari pihak terkait @fata.islamy
21 Oktober 2026 - 13:05 WIB #5
Membalas @agus.dwinanto77
Baik pak @agus.dwinanto77 terima kasih
21 Oktober 2026 - 13:05 WIB #6
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Berdasarkan permasalahan yang telah diidentifikasi, pangan basi yang kami temukan di lapangan adalah berdasarkan hasil uji organoleptik. Uji organoleptik sendiri merupakan pemeriksaan kualitas pangan dengan menggunakan pancaindera yaitu rasa, tekstur, warna dan bau dengan tujuan menilai kelayakan makanan yang akan di konsumsi dan utamanya melindungi kesehatan masyarakat. Adapun beberapa pangan yang tidak memenuhi syarat secara organoleptik yang kami temukan yaitu berupa puding, tempe, nasi dan ayam. Selain itu, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan setiap hari, ditemukan banyak lalat yang masuk ke area pengelolaan pangan.
21 Oktober 2026 - 13:14 WIB #7
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 1. a. Menurut saya, rumusan masalah ditempat kerja sudah didukung oleh temuan lapangan berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang dilakukan oleh BBKK Tanjung Priok, dengan jumlah TPP yang diperiksa sebanyak 93 TPP dari bulan Januari sampai dengan September 2026. Permasalahan yang ditemukan berdasarkan hasil IKL Masih terdapat temuan berulang terkait ketidaksesuaian higiene dan sanitasi TPP. Antara lain :
• Makanan siap saji dipajang terlalu lama pada suhu ruang tanpa pengendalian waktu dan suhu yang memadai sebanyak 40 temuan
• Penjamah makanan belum menggunakan APD secara lengkap, seperti penutup rambut, celemek, dan masker sesuai kebutuhan sebanyak 69 temuan
• Penyimpanan peralatan bersih belum terlindungi secara optimal dari vektor dan binatang pembawa penyakit (BPP) sebanyak 46 temuan
• Pangan kemasan belum terlindungi dengan baik dan masih ditemukan vektor atau BPP di area TPP sebanyak 41 temuan
• Tempat sampah tidak memiliki tutup sebanyak 49 temuan
• Pengelola TPP belum optimal dalam melakukan pengawasan internal dan cenderung menunggu pemeriksaan BBKK misalnya tidak tersedianya checklist harian, catatan pemantauan suhu, dokumentasi tindakan koreksi.
Menurut saya rumusan masalah di TPP pelabuhan Tanjung Priok yaitu masih ditemukannya ketidaksesuaian higiene sanitasi pangan secara berulang pada TPP di sentra kantin Pelabuhan Tanjung Priok berdasarkan hasil IKL BBKK Tanjung Priok, terutama pada pengendalian waktu dan suhu makanan siap saji, higiene penjamah makanan, perlindungan peralatan dan pangan, serta pengendalian vektor dan BPP. Kondisi ini mengindikasikan perlunya penguatan pengawasan internal oleh pengelola TPP agar penyimpangan dapat dideteksi dan dikoreksi secara rutin tanpa hanya bergantung pada pemeriksaan petugas BBKK
b. Menurut saya, indikator yang paling perlu diprioritaskan adalah pengendalian waktu dan suhu makanan siap saji, karena penyimpangan pada aspek tersebut dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit apabila kondisi dan durasinya mendukung. Menurut saya, persoalan utama bukan semata-mata adanya ketidakpatuhan pekerja, melainkan bagaimana memastikan seluruh proses pengelolaan pangan dikendalikan secara konsisten setiap hari. Oleh karena itu, pengawasan perlu bergeser dari pendekatan yang hanya mengandalkan inspeksi eksternal menjadi pengawasan internal yang terdokumentasi, terukur, dan ditindaklanjuti oleh pengelola TPP, dengan verifikasi berkala oleh BBKK Tanjung Priok
b. indikator yang paling jelas gagal dicapai adalah kepatuhan terhadap persyaratan higiene sanitasi pangan, terutama pengendalian waktu dan suhu makanan siap saji serta pencegahan kontaminasi pangan.
- Pengendalian waktu dan suhu pangan: makanan siap saji dipajang terlalu lama pada suhu ruang tanpa pemantauan waktu dan suhu yang memadai, sehingga berisiko meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme.
- Higiene penjamah makanan: masih ditemukan penjamah yang tidak menggunakan perlengkapan pelindung sesuai kebutuhan, seperti celemek dan penutup rambut.
- Perlindungan pangan dan peralatan: peralatan bersih dan pangan belum terlindungi secara optimal dari kontaminasi.
- Pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit (BPP): masih ditemukan vektor atau BPP di area TPP.
- Pengawasan internal: pengelola belum optimal melakukan pemantauan dan tindakan koreksi secara rutin, yang perlu dibuktikan melalui evaluasi catatan pengawasan internal.
21 Oktober 2026 - 13:16 WIB #8
Membalas @agus.dwinanto77
Izin menjawab pak @agus.dwinanto77 ,
1. Untuk masalah pada TPP kami sudah berdasarkan fakta, dilihat dari hasil pemeriksan rutin yang telah kami lakukan
2. Indikator yang jelas belum memenuhi syarat yakni pemilahan dan penyimpanan bahan makanan dan pengendalian vektor
21 Oktober 2026 - 13:18 WIB #9
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Tahap 1 --> Fakta vs Asumsi dalam rumusan masalah di lokasi kerja
1. a. Masalah Utama: Tingginya ketidaksesuaian persyaratan higiene sanitasi pangan pada TPP yang diperiksa.
1. b. Fakta : Pada Januari–September 2026, telah dilakukan IKL terhadap 93 TPP. Lima ketidaksesuaian terbanyak berkaitan dengan penggunaan masker oleh penjamah pangan (69 temuan), tempat sampah tanpa tutup (49 temuan), penyimpanan peralatan bersih yang tidak terlindung dari vektor dan BPP (46 temuan), penggunaan celemek (44 temuan), serta penyajian pangan tanpa penutup atau pada lemari display yang tidak tertutup (41 temuan).
Temuan tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam praktik higiene penjamah pangan dan perlindungan pangan dari kontaminasi. Namun, data ini belum membuktikan apakah ketidaksesuaian terjadi berulang pada TPP yang sama atau apakah rekomendasi sebelumnya tidak ditindaklanjuti.

2. Indikator yang perlu diperbaiki --> pemenuhan persyaratan higiene penjamah pangan, pengelolaan sampah, perlindungan peralatan bersih, serta perlindungan pangan siap saji dari kontaminasi.
21 Oktober 2026 - 13:23 WIB #10
Membalas @agus.dwinanto77
Ijin menanggapi pak @agus.dwinanto77
1. Untuk deskripsi permasalahan yang dibahas sudah sesuai fakta yang ada di lapangan sesuai dari hasil IKL
2. Menurut saya untuk Indikator yang menjadi prioritas adalah hygiene penjamah makanan
21 Oktober 2026 - 13:29 WIB #11
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Permasalahan yang akan saya ambil sudah berdasarkan fakta. Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan IKL bulanan pada TPP dan data permasalahan terdokumentasikan pada formulir IKL serta laporan kegiatan.
Terkait indikator yang menajdi penghambat dalam perbaikan atau penyelesaian masalah adalah mulai dari kebijakan dari pengelola bandara. Karna BKK berada di wilayah bandara sehingga keputusan yang paling berdampak adalah dari pengelola bandara.
21 Oktober 2026 - 13:40 WIB #12
Membalas @agus.dwinanto77
izin pak @agus.dwinanto77
diskripsi maslah yang saya angkat itu adalah real terjadi di lapangan mulanya saya pikir hal itu tidak jadi masalah karena belum ada kasus keracunan pangan, namun setelah mengikuti pelatihan ini banyak ilmu yang di berikan mengenai keamanan pangan dan di runutkan dari fakta di lapangan hal ini bisa menjadi pemicu masalah keamanan pangan mengingat pengunjung pada TPP tersebut ramai,untuk uji organoleptik sendiri sudah dilakukan setiap bulan namun uji laboratoruim belum di lakukan mengingat di BKK Wilker Manggar tidak adanya fasilitas laboratorium sedangkan laboratorium daerah juga tidak tersedia pemeriksaan sampel makanan.
21 Oktober 2026 - 13:47 WIB #13
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 izin menjawab pak agus, akar permasalahan yang terjadi seringkali muncul pertama kali berdasarkan asumsi karna setelah mendengar kasus naluri seroang sanitasi akan berasumsi terlebih dahulu, namun setelah dilakukan croscek dilapangan barulah didapatkan fakta berdasar data dan pertanyaan 5 W. indikator yang sering terlupakan adalah cara penyimpanan alat makan yang tidak tertutup dengan baik ketika closing malam hari apabila alat makan diletakan pada tempat terbuka berpotensi vektor penyakit mengkontaminasi. ditambah fakta dilapangan bahwa penjamah pangan belum menggunakan APD yang baik seperti celemek dan masker.
21 Oktober 2026 - 13:50 WIB #14
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Ijin pak Agus, terkait dengan rumusan masalah yg saya angkat, bahwa saya menilai hal tsb sbgai sebagian besar fakta. Kondisi lapangan yang ada, nampak lapak2 tsb dibangun dg kurang mmpertimbangkan aspek higienis dan saniter. Bangunan tdk permanen, minim fasilitas (air bersih, tempat sampah,drainase yg tdk lancar, dlsb). Selain itu, sy pernah berbincang dg staff desa yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan TPP kawasan kuliner. Bliau saat ini kebingungan menjalankan kawasan tsb (terjadi kevakuman, krna tdk ada program jangka panjang yg jelas) dan selain itu pihak NGO berusaha mengambil alih pengelolaannya. Karenanya sy berencana memulai aksi nnti dg membuka komunikasi, koordinasi resmi ke pihak BUMDes mengenai penyelenggaraan TPP kawasan kuliner Batako dan mnyampaikan ketentuan2 yang harus ditaati dalam penyelenggaraan TPP tsb
21 Oktober 2026 - 13:53 WIB #15
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Izin bergabung Pak Agus, di antara rumusan permasalahan, berdasarkan prioritasi masalah yang dilakukan, masalah yang kami ambil di wilayah kerja adalah berbasis fakta karena berdasarkan laporan kejadian
21 Oktober 2026 - 13:57 WIB #16
Membalas @agus.dwinanto77
Izin Pak @agus.dwinanto77
1. Fakta pak, karena berdasarkan IKL di lapangan yang rutin dilakukan dan dilengkapi foto yang valid
2. Indikator personal hygine yang belum memiliki SOP dan kesadaran penuh/ komitmen bersama akan pentingnya personal hygine.
21 Oktober 2026 - 13:57 WIB #17
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Menurut saya, rumusan masalah tersebut sudah mengidentifikasi kondisi dan faktor risiko yang perlu dikendalikan, tetapi masih perlu diperkuat dengan data hasil pengawasan agar dapat sepenuhnya dibedakan antara fakta dan asumsi.
Fakta yang dapat diidentifikasi antara lain belum tersedianya SOP khusus mengenai penerimaan pangan katering haji dan pembatasan atau skrining makanan dari luar, penggunaan kendaraan yang belum dilengkapi sarana penjaga suhu yang memadai, serta risiko perubahan suhu makanan selama proses pengangkutan dan penyajian.
Selain itu, terdapat risiko makanan bawaan jemaah yang disimpan pada suhu ruang tanpa pengawasan serta belum tersedianya dapur pengolahan berstandar HACCP di area asrama haji, terutama jika sudah didukung hasil pemeriksaan laboratorium dan data kejadian penyakit.
Indikator atau standar yang paling jelas belum terpenuhi diantaranya :
a. Pengendalian waktu dan suhu makanan, mulai dari pengemasan di dapur katering, pengangkutan, penerimaan di asrama haji, hingga sebelum makanan disajikan. Pengendalian ini perlu dibuktikan melalui pengukuran dan pencatatan suhu serta waktu pada setiap tahapan.
b. Ketersediaan dan penerapan SOP, khususnya SOP penerimaan pangan katering haji serta SOP pembatasan atau skrining makanan yang dibawa atau diberikan dari luar. Tanpa prosedur yang jelas, proses penerimaan, pemeriksaan, penyimpanan, dan penanganan pangan berisiko dapat berjalan tidak seragam.
c. Kelayakan sarana pengangkutan makanan, termasuk ketersediaan food warmer atau insulated food carrier yang sesuai dengan jenis pangan, serta kebersihan kendaraan dan wadah pengangkut.
d. Penerapan higiene sanitasi pangan dan prinsip HACCP, termasuk kebersihan personel dan peralatan, pemisahan pangan mentah dan matang, serta pencatatan dan verifikasi proses pengolahan.
Menurut saya, indikator yang perlu diprioritaskan adalah pengendalian waktu dan suhu distribusi serta penyusunan SOP penerimaan pangan. Kedua aspek ini penting karena makanan diproduksi di luar area asrama haji dan harus melalui proses pengangkutan sebelum dikonsumsi jemaah. Sebagai tindak lanjut, saya mengusulkan penyusunan SOP yang terintegrasi, penggunaan formulir atau ceklis digital untuk pencatatan waktu dan suhu, pemeriksaan kelayakan sarana pengangkutan, edukasi kepada jemaah dan keluarga mengenai keamanan makanan bawaan, serta inspeksi dan verifikasi berbasis risiko oleh pihak terkait. Oleh karena itu, analisis akar masalah harus didukung bukti dan data yang dapat diverifikasi. Dengan demikian, tindakan pengendalian yang disusun tidak hanya bersifat korektif, tetapi juga preventif agar keamanan pangan jemaah haji dapat terjaga secara berkelanjutan.
Demikian Terima kasih.
21 Oktober 2026 - 14:15 WIB #18
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Selamat Siang Pak Agus, terima kasih atas bahan diskusinya, izin berpendapat.
Masalah yang ditemukan: Minuman berkemasan disimpan langsung di lantai pada salah satu tenant

1. Asumsi/fakta? Fakta karena kami mengetahui saat melaksanakan inspeksi langsung di awal bulan ini.
a. Apa:
b. Di mana: Di dalam ruang penyimpanan stok
c. Kapan: Minggu kedua Oktober 2026
d. Risiko: Kemasan berisiko terpapar debu, kotoran, genangan air, serta hama atau vektor di area lantai.
2. Indikator/standar yang gagal dicapai adalah
a. Penyimpanan minuman berkemasan belum memenuhi prinsip higiene sanitasi karena produk diletakkan langsung di lantai.
b. SOP yang belum berjalan optimal
Prosedur penyimpanan bahan pangan belum diterapkan secara optimal, khususnya dalam memastikan produk tersimpan di rak atau alas yang sesuai dan terlindung dari sumber pencemaran.
21 Oktober 2026 - 14:23 WIB #19
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Ditempat saya bekerja ini mudah2an belum ada pernah ada keracunan makanan. Dari data hasil pemeriksaan yang kami lakukan kebanyakan yang kurang memenuhi syarat itu hasil usap alat makan pada piring dan gelas dan sendok masih kotor dan penjamah makanan tidak menerapakan personal hygiene dalam pengolahan makanan. Tapi di Asrama Haji Medan yang pernah kami temukan sudah memiliki dasar fakta, yaitu adanya kejadian ayam yang sudah busuk tetapi masih disajikan kepada jemaah haji. Namun, tetap perlu menelusuri penyebab kejadian tersebut agar tidak langsung menyimpulkan bahwa petugas kurang teliti atau . Perlu dilihat bagaimana proses penerimaan bahan pangan, penyimpanan, pengolahan, hingga pemeriksaan makanan sebelum disajikan kepada jemaah. Dan kami rutin melakukan organoleptik pada makanan sebelum disajikan pada jamaah haji. Menurut saya indikator yang perlu diperhatikan suhu pada saat penyimpanan bahan makanan , pemilihan kualitas bahan makanan yang diolah dan pengolahan bahan makanan tersebut.
21 Oktober 2026 - 15:22 WIB #20
Membalas @agus.dwinanto77
1. Rumusan masalah yang saya deskripsikan sudah sesuai fakta dan kondisi di lapangan berdasarkan hasil inspeksi TPM yang dilakukan.
2. Aspek yang paling jelas perlu dievaluasi adalah pengendalian keberadaan hama di lingkungan pengelolaan pangan. Prinsip higiene pangan mengharuskan lingkungan diperiksa secara berkala untuk mendeteksi infestasi dan setiap infestasi ditangani segera tanpa membahayakan keamanan pangan
@agus.dwinanto77
21 Oktober 2026 - 07:36 WIB #21
Diskusi Tahap 2: Benarkah Hanya Salah "Human Error"?
setelah selesai menetapkan masalah, Sekarang kita masuk ke tahap Root Cause Analysis (Akar Masalah).
kita bisa menggunakan banyak tools untuk menetapkan akar masalah, contoh yang saya gunakan menggunakan teknik 5 Whys, contoh kesalahan banyak dari kita yang berhenti pada kesimpulan: "Ini kelalaian petugas" atau "Kurangnya kesadaran staf". Jika kita berhenti di sini, masalah yang sama pasti akan terulang lagi di masa yang akan datang!
Mari kita kritisi bersama:
1. ceritakan tools/ pendekatan apa yang digunakan untuk menetapkan akar masalah yang anda rumuskan?
2. Bagikan temuan akar masalah final Anda di sini!
21 Oktober 2026 - 12:58 WIB #22
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 saya menggunakan metode USG, Mungkin rekan2 bisa mengkoreksi jika saya salah. Terlampir berikut
21 Oktober 2026 - 13:16 WIB #23
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 izin pak 2. Menurut saya, masalah ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai human error atau kelalaian petugas. Ketidakpatuhan individu mungkin menjadi salah satu faktor, tetapi kita juga perlu mengevaluasi apakah prosedur sudah jelas, sarana tersedia, tanggung jawab ditetapkan, dan pengawasan berjalan secara konsisten. Oleh karena itu, solusi yang diperlukan bukan hanya memberikan teguran atau pelatihan kepada pekerja, melainkan membangun sistem pengawasan internal yang rutin, terukur, terdokumentasi, dan memiliki mekanisme tindak lanjut.
a. Tools atau pendekatan yang digunakan
Dalam menganalisis akar masalah ketidaksesuaian higiene sanitasi pangan pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di sentra kantin Pelabuhan Tanjung Priok, saya menggunakan metode 5 Whys yang didukung dengan analisis Fishbone (diagram tulang ikan).
Metode 5 Whys digunakan untuk menggali penyebab masalah secara bertahap, sedangkan Fishbone membantu mengelompokkan faktor penyebab berdasarkan aspek manusia, metode, sarana, lingkungan, dan manajemen.
analisis 5 Whys:
1. Mengapa makanan siap saji berisiko mengalami kontaminasi? Karena pengendalian waktu dan suhu penyajian belum dilakukan secara konsisten.
2. Mengapa pengendalian waktu dan suhu belum konsisten? Karena pemantauan dan pencatatan waktu penyajian serta suhu makanan belum berjalan rutin.
3. Mengapa pemantauan belum berjalan rutin? Karena belum tersedia atau belum diterapkan sistem checklist harian yang efektif oleh pengelola.
4. Mengapa sistem checklist belum berjalan efektif? Karena pembagian tanggung jawab, supervisi, dan tindak lanjut penyimpangan belum optimal.
5. Mengapa supervisi dan tindak lanjut belum optimal? Karena pengawasan internal belum terintegrasi secara konsisten ke dalam sistem operasional harian TPP.

b. Berdasarkan permasalahan yang diidentifikasi, akar masalah sementara yang saya rumuskan adalah:
Belum optimalnya sistem pengawasan internal higiene sanitasi pangan oleh pengelola TPP, yang ditandai dengan belum konsistennya pemantauan rutin, pencatatan hasil pemeriksaan, dan tindak lanjut terhadap penyimpangan higiene sanitasi.
Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor:
- Manusia: pemahaman dan kepatuhan penjamah makanan terhadap prosedur higiene sanitasi belum konsisten.
- Metode: checklist inspeksi harian, pemantauan suhu, dan pencatatan waktu penyajian belum diterapkan secara efektif.
- Manajemen: pembagian tanggung jawab dan supervisi internal belum berjalan optimal.
- Sarana: fasilitas penyimpanan pangan dan peralatan belum sepenuhnya mendukung pencegahan kontaminasi.
- Lingkungan: pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit belum efektif.
21 Oktober 2026 - 13:19 WIB #24
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Saya melakukan analisis menggunakan 5 Whys pada masing masing masalah
Kemudian didapatkan root cause belum terdapat sistem monitoring (baik vektor, penyimpanan bahan, dan penyimpanan makanan matang) yang rutin jelas, terdokumentasi dengan baik, dan kurangnya kesadaran pengelola Tempat Pengolahan Pangan mengenai hal tersebut
21 Oktober 2026 - 13:21 WIB #25
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
1. Tools pendekatan yang digunaan yaitu 5whys
a. Mengapa ketidaksesuaian masih banyak ditemukan? Karena praktik higiene penjamah dan perlindungan pangan belum memenuhi persyaratan.
b. Mengapa praktik tersebut belum sesuai? Karena penerapan persyaratan higiene sanitasi belum konsisten.
c. Mengapa penerapannya belum konsisten? Perlu dianalisis apakah penyebabnya adalah pemahaman, kebiasaan kerja, ketersediaan sarana, atau pengawasan internal pengelola.
d. Mengapa penyebab tersebut belum teratasi? Perlu dievaluasi efektivitas pembinaan, komitmen pengelola, dan tindak lanjut rekomendasi hasil IKL.
e. Mengapa ketidaksesuaian berpotensi terus terjadi? Salah satu dugaan yang perlu diuji adalah belum optimalnya mekanisme pemantauan dan verifikasi perbaikan setelah pengawasan.

2. Akar masalah sementara: belum optimalnya penerapan dan pengendalian higiene sanitasi pangan oleh pengelola TPP, yang perlu dianalisis lebih lanjut melalui evaluasi tindak lanjut hasil IKL dan koordinasi dengan pihak terkait.
21 Oktober 2026 - 13:29 WIB #26
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Untuk menentukan akar penyebab masalah, saya melakukan pendekatan 5W1H dimana
What : ditemukannya pangan yang tidak layak konsumsi berdasarkan uji organoleptik yaitu:
1. Puding yang sudah berlendir
2. Tempe yang sudah berbau tengik
3. Ayam yang berbau tidak sedap
4. Nasi yang sudah berbau

Where:
Lokasi penemuan di dapur asrama haji

When:
Saat operasional embarkasi haji tahun 2026, ditemukan saat dilakukan uji organoleptik sebelum makanan di distribusikan

Why: kemungkinan penyebabnya adalah:
1. Jeda waktu pemasakan yang terlalu lama dengan waktu pembagian
2. Suhu penyimpanan pangan jadi (puding dan nasi) tidak sesuai (masuk dalam kategori danger zone)
3. Tempat penyimpanan dan suhu penyimpanan bahan baku tidak sesuai (tempe tidak masuk ke chiller dan ayam tidak dimasukan ke freezer)
4. Saat packing nasi tidak didinginkan terlebih dahulu
5. Penyimpanan puding tidak sesuai (tidak dimasukkan kedalam lemari pendingin)
6. Bahan baku (ayam dan tempe) sudah tidak segar saat di terima

Who:
1. Pihak yang menemukan tim kesling BKK Bandung
2. Pihak yang bertanggung jawab adalah pihak catering asrama haji
3. Pihak terkait lainnya adalah PPIH asrama haji

How: masalah tersebut ditemukan dengan uji organoleptik
21 Oktober 2026 - 13:48 WIB #27
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
pendekatan yang digunakan dalam menetapkan masalah adalah dengan kombinasi 5 W dan diagram fishbone
Masalah utamanya bukanlah "kelalaian petugas", melainkan kegagalan sistem manajemen dalam merancang lingkungan kerja yang aman (system-driven safety), tidak adanya teknologi pembatas kesalahan (error-proofing), serta regulasi internal (SOP) yang belum berbasis mitigasi risiko kelelahan kerja.
21 Oktober 2026 - 13:51 WIB #28
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Tools/pendekatan yang saya gunakan untuk menetapkan akar masalah adalah 5 whys.
mengapa suhu penyimpanan belum dipantau? tidak mempunyai termometer
mengapa tidak mempunyai termometer? belum menjadi pengawasan rutin
mengapa belum menjadi pengawasan rutin? tidak ada instruksi dari pengelola
mengapa tidak ada instruksi? belum ada SOP tertulis
mengapa belum ada SOP? ketiadaan sistem verifikasi titik kendali kritis keamanan pangan

final root cause : belum adanya SOP tertulis dan belum diterapkannya sistem pengendalian titik kendali kritis suhu
21 Oktober 2026 - 13:59 WIB #29
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Ijin pak, mnrt sya pendekatan yg dpt digunakan adalah menggabungkan antara wawancara, observasi lapangan, analisis sebab-akibat, metode 5 why, serta jg dg USG
21 Oktober 2026 - 14:12 WIB #30
Membalas @agus.dwinanto77
Izin Pak @agus.dwinanto77
Menurut saya, Kami terus melakukan pendekatan dengan membuat grup wa antara pemilik / wakil pemilik kantin agar dapat memeberikan edukasi/ sosialisasi terkait hygine penjamah dan ilmu2 baru dalam pangan, kami juga akan membuat suatu komitmen bersama anatara pihak BKK Palembang dan Penjamah serta pemilik kantin untuk sama - sama melakukan pengawasan mandiri dan berkomitmen untuk menggunakan APD dan hygine personal lainnya, terus melakukan pengawasan secara rutin dan siap menerima konsultasi/ dengar pendapat untuk sama - sama memecahkan permasalahn yang ada.

2. Akar masalah finalnya bukan karena staf "malas" atau "lupa" tapi belum ada nya komitmen dan kesdaran diri akan penting nya personal hygine dan sanitasi dapur yang baik untuk menjaga keamanan pangan.
21 Oktober 2026 - 14:21 WIB #31
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Izin menjawab Pak, menurut saya tidak selalu kesalahan utama ada pada petugas, bisa jadi memang dari sarana prasarana dan kondisi yang menyebabkan masalah tersebut. Saya menggunakan metode 5 whys sbb:

Masalah utama
Minuman berkemasan disimpan langsung di lantai salah satu tenant.

1. Mengapa minuman disimpan langsung di lantai? Karena tidak tersedia rak penyimpanan yang memadai.
2. Mengapa rak tidak tersedia? Karena ruang tenant terbatas.
3. Mengapa ruang penyimpanan terbatas? Karena tata letak ruangan belum optimal.
4. Mengapa tata letak belum optimal? Karena kebutuhan penyimpanan belum terakomodasi dengan baik.
5. Mengapa kebutuhan belum terakomodasi? Karena belum ada pengaturan penyimpanan yang sesuai dengan keterbatasan ruang.

Jadi, akar masalahnya bukan pada kelalaian petugas melainkan keterbatasan ruang tenant yang belum diimbangi dengan pengaturan tata letak dan sistem penyimpanan yang optimal serta sesuai dengan prinsip higiene sanitasi pangan.
21 Oktober 2026 - 14:25 WIB #32
Membalas @agus.dwinanto77
1. Tools atau pendekatan yang digunakan
Saya menggunakan metode 5 Whys (5 Mengapa) untuk mencari akar masalah dari kejadian ayam busuk yang masih disajikan kepada jemaah haji di Asrama Haji Medan. Pendekatan ini membantu menelusuri penyebab kejadian secara bertahap, bukan hanya menyalahkan penjamah makanan.

2. Temuan akar masalah final
Akar masalah diduga berkaitan dengan lemahnya pengawasan mutu bahan pangan, pemeriksaan kondisi ayam sebelum diolah dan disajikan yang belum optimal, serta belum konsistennya penerapan prosedur keamanan pangan. Faktor manusia tetap perlu dievaluasi, tetapi perlu juga melihat sistem pengawasan dan prosedur kerja yang berlaku agar kejadian serupa tidak terulang.
21 Oktober 2026 - 14:30 WIB #33
Membalas @agus.dwinanto77
izin menjawab pak @agus.dwinanto77
1. untuk pendekatan menggunakan metode 5 whys untuk mencari penyebab masalah
2. akar masalah yang ditemukan saat ini adalah hygiene penjamah pangan yang belum optimal
21 Oktober 2026 - 15:25 WIB #34
Membalas @agus.dwinanto77
Kami menggunakan pendekatan 5 Whys untuk menelusuri penyebab indikasi infestasi kecoak di lokasi TPP yang akan saya ambil untuk topik pelatihan ini yaitu, mulai dari ketersediaan sumber makanan, air, dan tempat persembunyian hingga sistem yang mengatur pembersihan serta pengendaliannya. Hasil analisis mengarah pada dugaan akar masalah berupa belum optimalnya sistem pengendalian hama terpadu yang terdokumentasi, meliputi prosedur kerja, jadwal kegiatan, pembagian tanggung jawab, pemantauan, dan tindak lanjut temuan, bukan semata-mata kelalaian petugas. Namun, akar masalah ini masih perlu dikonfirmasi melalui observasi, pemeriksaan dokumen, dan wawancara dengan pengelola sebelum ditetapkan sebagai kesimpulan final@agus.dwinanto77
21 Oktober 2026 - 07:46 WIB #35
Diskusi tahap 3: alternatif solusi yang anda tawarkan
Kita sudah menemukan akar masalah sistemiknya. Sekarang waktunya mengeksekusi perbaikan. Anda, sudah ada beberapa alternatif solusi. solusi sebaik apa pun akan gagal jika pelaksanaannya rumit atau butuh biaya yang tidak tersedia.
Yuk, tawarkan solusi andalan Anda di kolom REPLY. Mari kita lihat mana yang punya solusi paling aplikatif dan mampu laksana, anda bisa saling memberikan penguatan atas solusi dari teman yang lainnya yach....
21 Oktober 2026 - 13:00 WIB #36
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 dalam permasalahan saya, menurut saya di awal solusi saya adalah membuka komunikasi dan koordinasi dengan pihak oengelola, selanjutnya mengedukasi dan menerapkan sistem terbaik yang sudah disepakati
21 Oktober 2026 - 13:19 WIB #37
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Menurut saya, solusi untuk mengatasi temuan berulang IKL pada TPP di wilayah kerja BBKK Tanjung Priok perlu diarahkan pada perubahan dari pengawasan yang tidak hanya bergantung pada petugas menjadi pengawasan mandiri yang dilakukan secara konsisten oleh pengelola.
Salah satu upaya yang dapat diterapkan salah satunya yaitu
1. Berkoordinasi dengan stake holder terkait dan pengelola untuk pembentukan grup WhatsApp yang beranggotakan petugas BBKK Tanjung Priok, penanggung jawab kantin, dan perwakilan pengelola TPP. Grup digunakan untuk:
a. Edukasi keamanan pangan: berbagi materi tentang higiene sanitasi, enam prinsip keamanan pangan, pencegahan kontaminasi, serta pengendalian waktu dan suhu pangan.
b. Diskusi dan konsultasi: memberikan ruang bagi pengelola untuk bertanya dan menyampaikan kendala penerapan higiene sanitasi di lapangan.
c. Berbagi informasi: menyampaikan panduan, poster edukasi, SOP sederhana, dan informasi terkait keamanan pangan.
d. Pengingat harian: mengingatkan pengelola untuk mengisi Kartu Kendali Pangan Harian dan menggunakan Stiker Jam Saji.
e. Tindak lanjut hasil IKL: memfasilitasi penyampaian bukti perbaikan temuan dan konsultasi sebelum verifikasi petugas BBKK.

2. pengawasan mandiri oleh pengelola dengan penerapan kartu kendali pangan harian oleh pengelola, dan stiker jam saji dan cek list higiene sanitasi
Tujuannya untuk meningkatkan kepatuhan pengelola Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) terhadap higiene sanitasi dan keamanan pangan melalui pemantauan rutin secara mandiri, khususnya pada makanan siap saji yang dipajang atau disajikan di sentra kantin Pelabuhan Tanjung Priok.
21 Oktober 2026 - 13:22 WIB #38
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Alternatif solusi yang saya lakukan yakni bekerjasama dengan pihak pengelola pelabuhan untuk melakukan pengawasan pada TPP di wilayah mereka, yang juga didukung dengan edukasi dan sosialisasi kepada pengelola/penanggungjawab TPP terkait
21 Oktober 2026 - 13:23 WIB #39
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
alternatif solusinya yaitu:
1. Koordinasi lintas sektor yang melibatkan pengelola kawasan pelabuhan, pemilik atau pengelola TPP, serta instansi terkait untuk menyepakati tanggung jawab dan komitmen perbaikan.
2. Mencatat setiap temuan, tingkat risiko, rekomendasi, penanggung jawab, target penyelesaian, dan status verifikasi pada matriks tindak lanjut.
3. Mendahulukan prioritas perbaikan melalui tindakan yang melindungi pangan dari kontaminasi, seperti melindungi peralatan bersih, menutup pangan siap saji, serta memastikan penerapan higiene penjamah.
4. Memverifikasi ulang apakah perbaikan telah dilaksanakan dan dipertahankan.
5. Evaluasi efektivitas dengan membandingkan hasil IKL berikutnya dengan hasil sebelumnya untuk menilai penurunan ketidaksesuaian dan pengulangan temuan pada TPP yang sama.
21 Oktober 2026 - 13:34 WIB #40
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Solusi yang dapat saya sampaikan kepada pengelola catering tersebut antara lain:
1. Penghentian / pembatalan distribusi terhadap pangan yang tidak laik konsumsi dan mengganti dengan menu yang baru
2. Memisahkan pangan yang sudah tidak layak dan dilakukan pemusnahan
3. Melakukan pemantauan terhadap alur produksi mulai dari penerimaan bahan baku hingga penyajian
4. Melakukan pencatatan suhu dan waktu memasak
21 Oktober 2026 - 13:55 WIB #41
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
alternatif solusi dari permasalahan yang saya angkat adalah koordinasi dengan lintas sektor dalam hal ini adalah unit penyelenggara pelabuhan dalam hal ini mencakup pemantauan kepatuhan terhadap keamanan pangan, mengingat TPP tersebut berdiri di area wilayah unit penyelenggara pelabuhan.
21 Oktober 2026 - 13:56 WIB #42
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
rekomendasi solusi yang saya lakukan adalah edukasi kepada pengelola TPP dan penjamah terkait titik kendali kritis, kemudian koordinasi lebih lanjut terkait pembuatan SOP dari tenant, kemudian pembuatan logbook atau grafik suhu harian, dan yang terakhir menentukan penanggungjawab monitoring suhu penyimpanan.
21 Oktober 2026 - 14:04 WIB #43
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 ijin, sebagaimana diawal bahwa sy akan mmulainya dg membuka komunikasi dan koordinasi terlebih dahulu sambil menggali lebih jauh permsalahan lain yg mgkn masih luput
21 Oktober 2026 - 14:24 WIB #44
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77 Alternatif solusi dari masalah yang saya temukan yakni memberikan rekomendasi dan edukasi agar pengelola dan penjamah makanan untuk melakukan:
Solusi preventif: Menata ulang tata letak penyimpanan agar tersedia ruang khusus untuk minuman berkemasan.
Solusi korektif: Menyediakan rak bertingkat atau alas penyimpanan yang sesuai dengan kondisi ruangan sehingga minuman tidak diletakkan langsung di lantai.
Solusi pengawasan: Melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi penyimpanan dan kebersihan bagian luar kemasan.
21 Oktober 2026 - 14:27 WIB #45
Membalas @agus.dwinanto77
Izin Pak @agus.dwinanto77

Solusi saya
1. Sosialisasi/ edukasi 1 bulan sekali sembari IKL ke lapangan
2. Membuat komitmen bersama antara BKK, Pemilik dan Penjamah Makanan
3. Berdiskusi dengan PT Pelindo untuk perbaikan kontruksi bangunan kantin
21 Oktober 2026 - 14:30 WIB #46
Membalas @agus.dwinanto77
@agus.dwinanto77
Solusi yang saya usulkan adalah melakukan pemeriksaan bahan pangan sebelum diolah dan disajikan, terutama kondisi ayam, serta menerapkan checklist pemeriksaan sederhana. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan bagi penjamah makanan tentang higiene sanitasi dan keamanan pangan agar mampu mengenali bahan pangan yang tidak layak konsumsi. Langkah ini perlu didukung pengawasan rutin agar kejadian serupa tidak terulang.
21 Oktober 2026 - 14:38 WIB #47
Membalas @agus.dwinanto77
izin pak @agus.dwinanto77 dalam kasus saya solusi awal yang dilakukan adaah melakukan koordinasi kepada pihak pengelola untuk selanjutnya mengedukasi kepada penjamah pangan.
21 Oktober 2026 - 15:27 WIB #48
Membalas @agus.dwinanto77
Solusi andalan kami adalah menerapkan checklist harian kebersihan dan pemantauan kecoak yang sederhana dengan menunjuk penanggung jawab pada setiap sif. Pemeriksaan mencakup sisa makanan, sampah, genangan air, perlindungan pangan dan peralatan, serta tanda keberadaan kecoak. Setiap temuan dicatat dan segera ditindaklanjuti, sedangkan perbaikan celah atau kebocoran dikoordinasikan dengan petugas pemeliharaan. Pengelola meninjau hasilnya setiap minggu dan melibatkan penyedia jasa pengendalian hama apabila temuan kecoak berlanjut. Solusi ini diusulkan dengan memanfaatkan petugas yang sudah ada dan formulir satu lembar agar mudah dijalankan serta tidak hanya mengandalkan kesadaran individu@agus.dwinanto77
21 Oktober 2026 - 13:06 WIB #49
Menurut saya, kasus keracunan pangan dengan 25 orang mengalami gejala diare dan 3 orang harus dibawa ke IGD menunjukkan bahwa permasalahan keamanan pangan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mencari petugas atau pekerja yang melakukan kesalahan. Kita perlu mengevaluasi apakah sistem higiene sanitasi dan penerapan HACCP sudah berjalan secara konsisten, mulai dari penerimaan bahan pangan, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian.
Menurut pendapat saya berdasarkan empat langkah bedah kasus tersebut
Permasalahan utama adalah adanya kesenjangan antara target keamanan pangan, yaitu tidak terjadinya insiden, dengan kondisi aktual berupa dugaan kejadian luar biasa keracunan pangan.
Fakta awal yang perlu dikumpulkan meliputi:
• Sebanyak 25 orang mengalami gejala diare dan 3 orang mendapatkan penanganan di IGD.
• Jenis makanan yang dikonsumsi dan waktu konsumsi.
• Waktu mulai munculnya gejala serta kesamaan makanan yang dikonsumsi.
• Proses pengolahan, penyimpanan, suhu makanan, dan kondisi higiene sanitasi tempat pengelolaan pangan (TPP).
• Hasil pemeriksaan sampel pangan, air, atau spesimen klinis apabila diperlukan.
Data tersebut penting agar keputusan tidak didasarkan pada dugaan semata. Makanan tertentu tidak boleh langsung dinyatakan sebagai penyebab sebelum dilakukan penyelidikan epidemiologi dan penilaian bukti yang relevan.
2. Identifikasi akar masalah menggunakan metode 5 Whys
Contoh analisis akar masalah yang perlu diuji di lapangan:
a. Mengapa terjadi dugaan keracunan pangan? Makanan diduga terkontaminasi atau mengalami penyalahgunaan waktu dan suhu penyimpanan.
b. Mengapa kontaminasi atau penyimpangan suhu tidak dicegah? Pemantauan suhu, waktu penyajian, dan kebersihan peralatan mungkin tidak dilakukan secara konsisten.
c. Mengapa pemantauan tidak konsisten? Belum tersedia atau belum diterapkan ceklis inspeksi harian dan pencatatan yang memadai.
d. Mengapa ceklis dan prosedur belum berjalan? Pembagian tanggung jawab, supervisi, dan mekanisme tindak lanjut penyimpangan belum efektif.
e. Mengapa sistem pengawasan belum efektif? Pengendalian keamanan pangan belum sepenuhnya menjadi bagian dari rutinitas operasional dan evaluasi manajemen.
3. Alternatif solusi yang dapat diterapkan
Menurut saya untuk TPP di wilayah kerja pelabuhan, termasuk sentra kantin Pelabuhan Tanjung Priok, solusi perlu menggabungkan tindakan segera dan perbaikan sistem jangka panjang.
Jenis tindakan Solusi Tujuan
Korektif segera Hentikan sementara penyajian atau distribusi pangan yang dicurigai tidak aman; amankan sampel dan catatan terkait. Mencegah paparan lanjutan dan mendukung investigasi.
Preventif Terapkan ceklis inspeksi higiene sanitasi harian dan pencatatan suhu serta waktu penyajian. Mendeteksi penyimpangan lebih awal.
Perbaikan proses Terapkan sistem one-way flow untuk memisahkan alur bahan mentah, pangan matang, peralatan kotor, dan peralatan bersih. Mengurangi risiko kontaminasi silang.
Peningkatan kompetensi Berikan pelatihan higiene sanitasi, pengendalian waktu dan suhu, serta tindakan koreksi. Memastikan pekerja memahami prosedur yang benar.
Penguatan pengawasan Lakukan verifikasi berkala berdasarkan tingkat risiko dan riwayat temuan. Memastikan perbaikan benar-benar dilaksanakan.
Selain itu, jika terdapat dugaan kejadian luar biasa keracunan pangan, pengelola perlu segera berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan instansi berwenang untuk penanganan korban, penyelidikan epidemiologi, serta pengambilan sampel sesuai kebutuhan.
4. Bagaimana mengukur keberhasilan solusi?
Keberhasilan tidak cukup diukur dari tersedianya SOP atau ceklis, tetapi dari pelaksanaannya dan perubahan kondisi di lapangan.
Indikator yang dapat digunakan antara lain:
• Kepatuhan pengisian ceklis inspeksi harian mencapai 100%.
• Seluruh penyimpangan kritis ditindaklanjuti dan diverifikasi sesuai batas waktu yang ditetapkan.
• Kepatuhan terhadap batas waktu dan suhu penyimpanan serta penyajian meningkat.
• Pekerja yang menangani pangan telah mendapat edukasi dan mampu mempraktikkan prosedur dengan benar.
• Tidak terjadi pengulangan insiden yang berkaitan dengan penyebab yang sama selama periode pemantauan.
Menurut saya, pelajaran terpenting dari kasus ini adalah bahwa insiden keamanan pangan bukan hanya persoalan kesalahan individu, tetapi juga dapat menunjukkan kelemahan sistem pengendalian risiko. Pekerja yang melakukan kesalahan tetap perlu dievaluasi, tetapi evaluasi harus dilanjutkan dengan mencari alasan mengapa sistem tidak mampu mencegah, mendeteksi, atau menghentikan kesalahan tersebut.
21 Oktober 2026 - 13:16 WIB #50
1. Definisi dan Deskripsi Masalah
Masalah utama dalam kasus ini adalah terjadinya wabah diare yang tidak sesuai dengan target HACCP, yaitu tidak adanya insiden keamanan pangan. Berdasarkan deskripsi kasus, terdapat 25 orang mengalami gejala dan 3 orang harus mendapatkan penanganan di IGD.

Permasalahan perlu dideskripsikan berdasarkan fakta mengenai jenis kejadian, lokasi, waktu kejadian, jumlah korban, serta proses pengolahan dan penyajian pangan yang terkait. Dengan demikian, penanganan tidak didasarkan pada asumsi bahwa kejadian semata-mata disebabkan oleh kelalaian petugas.

2. Analisis Akar Masalah
Pendekatan yang digunakan adalah teknik 5 Whys untuk menelusuri penyebab kejadian hingga ditemukan kelemahan sistem.
Berdasarkan contoh pada infografis, akar masalah tidak berhenti pada tertukarnya alat, tetapi mengarah pada kelemahan sistem, yaitu tidak adanya SOP inspeksi harian dan lambatnya pengadaan darurat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian keamanan pangan belum didukung prosedur pemeriksaan dan mekanisme penanganan masalah yang memadai.

3. Alternatif Solusi
a. Preventif --> menerapkan ceklis inspeksi harian, baik secara digital maupun manual, untuk memastikan higiene sanitasi dan keamanan pangan dipantau secara konsisten.
b. Korektif -->menerapkan sistem one-way flow untuk mencegah kontaminasi silang antara bahan pangan mentah, pangan matang, dan peralatan yang digunakan.
c. Perbaikan sistem --> menyusun dan menerapkan SOP inspeksi harian serta mekanisme pengadaan darurat untuk memastikan kebutuhan pengendalian keamanan pangan dapat dipenuhi tepat waktu.
d. Peningkatan kompetensi -->memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai higiene sanitasi, pencegahan kontaminasi silang, dan prosedur penanganan penyimpangan.
21 Oktober 2026 - 13:18 WIB #51
1. Menurut saya, deskripsi masalah saya sudah berdasarkan fakta karena mengacu pada hasil pengamatan langsung dan pemeriksaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) di kantin pelabuhan. Ditemukan tempat sampah yang tidak memiliki penutup, sampah yang tidak dipisahkan berdasarkan jenisnya, serta pengelolaan sampah yang belum optimal.
2. Indikator yang belum terpenuhi adalah persyaratan higiene dan sanitasi dalam pengelolaan sampah di TPP. Kondisi tersebut berpotensi mengundang vektor seperti lalat dan meningkatkan risiko kontaminasi pangan.
21 Oktober 2026 - 13:21 WIB #52
1.Berdasarkan hasil kelompok kemarin permasalahan belum dapat dinyatakan 100% berbasis fakta karena masih menggunakan istilah pengawasan buruk tanpa bukti pendukung
2. Indikator yang perlu kami evaluasi adalah pengendalian suhu makanan, kepatuhan terhadap SOP dan HACCP, serta kejadian penyakit bawaan pangan. Indikator yang benar-benar gagal dicapai harus ditentukan berdasarkan perbandingan antara data aktual dan standar yang berlaku. Dengan demikian, solusi yang dirumuskan dapat menyasar akar masalah, bukan sekadar menyalahkan petugas.”
21 Oktober 2026 - 13:21 WIB #53
Indikator yang paling jelas gagal dicapai adalah pengendalian bahaya pangan untuk mencegah kontaminasi silang, khususnya apabila investigasi membuktikan bahwa alat yang sama digunakan untuk bahan mentah dan makanan siap saji.

Indikator yang dapat dievaluasi meliputi:
1. Pencegahan kontaminasi silang: alat, permukaan, dan alur pengolahan harus mencegah perpindahan cemaran dari bahan mentah ke makanan siap saji.
2. Kepatuhan terhadap SOP higiene sanitasi: prosedur pemeriksaan, pembersihan, dan sanitasi peralatan harus tersedia serta dilaksanakan secara konsisten.
3. Pengendalian bahaya HACCP: bahaya biologis harus diidentifikasi, dinilai, dan dikendalikan pada tahapan proses yang relevan.
4. Ketepatan tindakan koreksi: penyimpangan harus segera ditangani dan didokumentasikan agar tidak menimbulkan risiko bagi konsumen.
21 Oktober 2026 - 13:28 WIB #54
Menurut saya, dalam menangani kasus keracunan makanan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi masalah berdasarkan fakta dan data yang ada, bukan langsung menyalahkan petugas atau pihak tertentu.

Selanjutnya, perlu dilakukan deskripsi masalah secara spesifik dengan mengidentifikasi jenis makanan yang diduga menjadi sumber kontaminasi, lokasi kejadian, waktu munculnya gejala, serta jumlah orang yang terdampak. Setelah itu, analisis akar masalah dapat dilakukan menggunakan metode **5 Whys** untuk mengetahui penyebab utama kejadian, misalnya kurangnya penerapan SOP sanitasi, tidak dilaksanakannya inspeksi rutin, atau keterlambatan pengadaan peralatan.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, alternatif solusi yang dapat diterapkan meliputi tindakan preventif berupa inspeksi sanitasi secara berkala dan penggunaan daftar periksa digital, tindakan korektif berupa perbaikan alur pengolahan makanan agar tidak terjadi kontaminasi silang, serta peningkatan kompetensi petugas melalui pelatihan higiene sanitasi dan HACCP.

Dengan demikian, penyelesaian masalah keamanan pangan tidak hanya berfokus pada penanganan kejadian yang sudah terjadi, tetapi juga pada perbaikan sistem untuk mencegah kejadian serupa terulang. Evaluasi dan pemantauan secara berkala juga diperlukan agar solusi yang diterapkan berjalan efektif dan berkelanjutan.
21 Oktober 2026 - 13:30 WIB #55
Slmt siang pak Agus, trmksh atas sharingnya. Tentunya sngt manusiawi ketika kita merasa panik pd saat mndapati adanya kjadian smisal keracunan pangan. Akan tetapi jika sdh terbentuk sistem/tata laksana yang baku ditempat kita mngenai langkah penyelesaian masalah, mka tentunya kita tdk akan berlama2 dalam kepanikan; apalagi jika kita sdh terpapar dg model 4 langkah bedah kasus investigasi keamanan pangan mulai dari mendfinisikan masalah hingga mencari alternatif solusi
21 Oktober 2026 - 13:33 WIB #56
permasalahan di Bandara Soekarno Hatta sudah berdasarkan 1 temuan kasus di Tahun 2025 dan hasil lab pengujian mikrobiologi pangan di Tahun 2026 meskipun berbeda restoran. sementara ini masih saya susun seperti ini
21 Oktober 2026 - 13:35 WIB #57
Izin menjawab Pak
1. Menurut saya, permasalahan higiene sanitasi pangan di Asrama Haji Medan yang pernah kami temukan sudah memiliki dasar fakta, yaitu adanya kejadian ayam yang sudah busuk tetapi masih disajikan kepada jemaah haji. Namun, tetap perlu menelusuri penyebab kejadian tersebut agar tidak langsung menyimpulkan bahwa petugas kurang teliti atau . Perlu dilihat bagaimana proses penerimaan bahan pangan, penyimpanan, pengolahan, hingga pemeriksaan makanan sebelum disajikan kepada jemaah.

2. Indikator yang belum terpenuhi adalah keamanan dan kelayakan pangan. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pengawasan harus dilakukan mulai dari penerimaan bahan pangan hingga makanan disajikan, agar makanan yang diterima jemaah benar-benar aman dikonsumsi.
21 Oktober 2026 - 13:46 WIB #58
Menurut saya, infografis langkah bedah kasus keamanan pangan memberikan pendekatan yang sistematis dalam menangani insiden, mulai dari identifikasi masalah berdasarkan fakta, mendeskripsikan kejadian secara spesifik, mencari akar penyebab melalui metode 5 Whys, hingga menentukan solusi yang tepat.
Langkah pertama adalah membandingkan target keamanan pangan, yaitu nol insiden, dengan kondisi aktual berupa kejadian wabah diare.
Langkah kedua, mengumpulkan data mengenai jumlah korban, lokasi, waktu kejadian, dan tingkat keparahan untuk memastikan masalah tergambar secara objektif.
Langkah ketiga, melakukan analisis akar masalah dengan metode 5 Whys agar penyebab mendasar, seperti tidak adanya SOP inspeksi harian dan lambatnya pengadaan darurat, dapat diidentifikasi, bukan hanya menyalahkan petugas.
Langkah keempat, menetapkan solusi preventif melalui ceklis inspeksi digital, solusi korektif melalui penerapan sistem alur satu arah (one-way flow), serta peningkatan kompetensi pekerja melalui pelatihan keamanan pangan.
Dengan demikian, penanganan insiden tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah sesaat, tetapi juga pada perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak terulang dan keamanan pangan dapat terjaga secara berkelanjutan.
21 Oktober 2026 - 13:48 WIB #59
Berdasarkan masalah yang saya temui d lapanga, perupa penyimpanan makanan jadi yang di pajang di etalase, pengaturan suhu dan lama penyimpanan nya, di karenakan di pelabuhan kami hanya berupa kantin saja, untuk pengolahan makanan nya di lakukan d luar pelabuhan. Ini yang masih kami kesulitan untuk meliha cara pengolahan makanan jadi nya itu sendiri.